Senjata Tumpul Memainkan Memekku | Tempat Cerita Sex
Home » Kisah Kiriman Email » Senjata Tumpul Memainkan Memekku

Senjata Tumpul Memainkan Memekku

VIMAX Vimax

Cerita Dewasa Terbaru – Panggil saja namaku wati banyak orang yang memanggilku cantik, memang banyak orang yang mengakui hal tersebut selain itu aku juga mempunyai material yang banyak, tapi aku sudah menikah setahun yang lalu waktu aku berumur 27 tahun dengan tinggi 168 berat bandan 54 kg, berambut panjang hitam wajah pipih serta mata sipit banyak yang naksir denganku.

Latar belakang keluargaku yakni dari keluarga Minang yang terpandang. Padahal suamiku, sebut saja Sapak yakni seorang staf pengajar pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang.

Cerita Sex Terbaru Senjata Tumpul Memainkan Memekku

cerita mesum terbaru terlengkap, cerita sex nyata pembaca, cerita ngentot memek hot, cerita kentu vagina, cerita mesum bersenggama, cerita panas terhot, cerita ML pasangan sange

Sesudah suamiku menyelesaikan studinya di luar negeri, saya mengusulkan untuk mengajukan pindah ke kota Padang supaya dapat berkumpul lagi dengan keluarga. Sesudah melalui birokrasi yang cukup memusingkan ditambah sogok sana sogok sini alhasil saya dapat pindah di kantor pusat di Kota Padang.

Pembaca tentu maklum bahwa pada jaman sekarang segala sesuatu harus pakai uang. Bahkan kata orang Jakarta segala sesuatu harus bayar, dari makan hingga buang kotoran. Mungkin cuma kentut saja yang belum perlu pakai uang. (Mungkin jika telah ada Undang Undang Lingkungan, kentut pun musti bayar sebab mencemari udara.. Ya nggakk??)

Sebagai orang baru, aku tentu saja harus bekerja keras untuk menunjukkan kemampuanku. Apalagi tugas baruku di kantor pusat ini yakni sebagai kepala bagian. Aku harus mampu menunjukkan kepada anak buahku bahwa aku memang layak menempati posisi ini.

Sebagai konsekwensinya saya harus rela bekerja hingga larut malam menyelesaikan tugas-tugas yang sangat berbeda ketika aku bertugas di kepulauan dahulu. Hal ini membuatku harus senantiasa pulang larut malam sebab jarak rumah kami dengan kantor yang cukup jauh yang harus kutempuh selama kurang lebih 30 menit dengan mobilku.

Sehingga aku jarang sekali bercengkerama dengan suamiku yang juga mulai semakin sibuk sejak karirnya meningkat. Praktis kami cuma berjumpa ketika menjelang tidur dan ketika sarapan pagi.

Atas kebijakan pimpinan, saya senantiasa dikawal satpam jika hendak pulang. Sebut saja namanya Pak Hary , satpam yang kerap mengawalku dengan sepeda motor bututnya yang mengiringi mobilku dari belakang hingga ke depan halaman rumahku untuk memastikan aku aman hingga ke rumah. Dengan demikian saya senantiasa merasa aman untuk bekerja hingga selarut apapun sebab pulangnya senantiasa diantar.

Takjarang saya memintanya mampir untuk sekedar memberinya secangkir kopi hingga suamiku pun mengenalnya dengan baik. Bahkan suamiku pun kerap kali memberinya beberapa bungkus rokok Gudang Garam kesukaannya.

Pak Hary yakni lelaki berumur 35 tahunan. Tubuhnya cukup kekar dengan kulit kehitaman khas orang Jawa. Dia memang asli Jawa dan katanya pernah menjadi preman di Pasar Senen Jakarta. Dia telah menjadi satpam di bank tempat aku bekerja selama 8 tahun. Dia telah beristri yang sama-sama berasal dari Jawa. Akupun telah kenal dengan istrinya, Yu Dar.

Suatu hari, ketika aku selesai lembur. Aku kaget ketika yang mengantarku bukan Pak Hary , tetapi orang lain yang belum cukup kukenal.

“Lho Pak Hary di mana Bang?” tanyaku pada satpam yang mengantarku.

“Anu Bu, Pak Hary hari ini minta ijin takmasuk katanya istrinya melahirkan” katanya dengan sopan.

cerita mesum terbaru terlengkap, cerita sex nyata pembaca, cerita ngentot memek hot, cerita kentu vagina, cerita mesum bersenggama, cerita panas terhot, cerita ML pasangan sange

Alhasil saya tahu jika yang mengantarku yakni Pak Warso, satpam yang biasanya masuk pagi.

“Kapan istrinya melahirkan?” tanyaku lagi.

“Katanya sih hari ini atau mungkin besok Bu” jawabnya.

Alhasil hari itu aku pulang dengan diiringi Pak Warso.

Awal Perselingkuhan

Telah dua hari aku senantiasa dikawal Pak Warso sebab Pak Hary takmasuk kerja. Hari Minggu aku bersama suamiku memutuskan untuk menjenguk istri Pak Hary di Rumah Sakit Umum. Alhasil saya mengetahui jika Yu Dar mengalami pendarahan yang cukup parah atau bleeding.

Dengan kondisinya itu dia terpaksa menginap di Rumah Sakit untuk waktu yang agak lumayan sesudah post partum. Atas saran suamiku aku turut membantu biaya perawatan istri Pak Hary , dengan pertimbangan selama ini Pak Hary telah setdia mengawalku tiap pulang kerja.

Sejak ketika itu hubungan keluargaku dengan keluarga Pak Hary seperti layaknya saudara saja. Kadangkala Yu Dar mengirimkan pisang hasil panen di kebunnya ke rumahku. Walaupun harganya takseberapa, tetapi aku merasa ada nilai lebih dari sekedar harga pisang itu.

Ya, rasa persaudaraan! Itulah yang lebih berharga dibanding materi sebanyak apapun. Sering pula aku mengirimi biscuit dan syrop ke rumahnya yang sangat sederhana dan terpencil sebab memang rumahnya di tengah kebun yang penuh ditanami pisang dan kelapa. Sebab seringnya aku berkunjung ke rumahnya maka tetangga yang letaknya agak berjauhan telah menganggapku sebagai bagian dari keluarga Pak Hary .

Suatu hari, ketika saya pulang lembur, seperti biasa saya diantar Pak Hary . Begitu hingga ke depan rumah tiba-tiba hujan mengguyur dengan derasnya hingga kusuruh Pak Hary untuk menunggu hujan reda. Aku suruh pembantuku, Mbok Tarmi yang telah tua untuk membuatkan kopi baginya. Sementara Pak Hary menikmati kopinya aku pun masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ini memang merupakan kebiasaanku untuk mandi sebelum tidur.

Hujan takkunjung reda hingga aku selesai mandi, kulihat Pak Hary masih duduk menikmati kopinya dan rokok kesukaannya di teras sambil menerawang memandangi hujan.

Cuma dengan mengenakan baju tidur saya turut duduk di teras untuk sekedar menemaninya ngobrol. Kebetulan lampu terasku memang lampunya agak remang-remang yang sengaja kuatur demikian dengan suamiku supaya enak menikmati suasana.

“Gimana sekarang punya anak Pak? Bahag dia kan?” tanyaku membuka percakapan.

“Yach.. Bahagdia sekali Bu..! Habis dulu istri aku pernah keguguran ketika kehamilan pertama, jadi ini benar-benar anugrah yang takterhingga buat aku Bu..”

“Memang Pak.. Aku sendiri sebenarnya telah ingin punya anak, tetapi..”

Aku takdapat meneruskan kata-kataku sebab jengah juga membicarakan kehidupan seksualku di depan orang lain.

“Tetapi kenapa Bu.. Ibu kan telah punya segalanya.. Mobil ada.. Rumah juga telah ada.. Apa lagi” Timpalnya seolah-olah turut prihatin.

“Yach.. Itu lah Pak.. Dari materi memang kami takkekurangan, tetapi dalam hal yang lain mungkin kehidupan Yu Dar lebih bahagia”

“Mm maksud ibu..” tanyanya terheran-heran.

“Itu lho Pak.. Pak Hary kan tahu jika aku senantiasa kerja hingga malam padahal Bang Sapak juga sering tugas ke luar kota jadi kami jarang dapat berkumpul tiap hari. Sekarang aja Bang Sapak sedang tugas ke Jakarta telah seminggu dan rencananya baru empat hari lagi baru kembali ke Padang”

“Yachh.. Memang itulah rahasdia kehidupan Bu.. Kami yang orang kecil seperti ini senantiasa kesusahan mikir apa yang hendak dimakan besok pagi.. Padahal keluarga ibu yang takkekurangan materi malah bingung takdapat kumpul”

Matanya sempat melirikku yang ketika itu mengenakan pakaian baby doll. Kulihat jakunnya naik turun melihat kemolekan tubuhku. Mungkin sebab hujan yang semakin deras dan aku yang jarang dijamah suamiku membuat gairah nakalku bangkit.

Aku sengaja mengubah posisi dudukku sehingga pahaku yang mulus sedikit kelihatan. Hal ini membuat duduknya semakin gelisah, matanya berkali-kali mencuri pandang ke arah pahaku yang memang sengaja kubuka sedikit.

“Sebentar Pak aku ambil minuman dulu” kataku sambil bangkit dan berjalan masuk.

Aku sadar bahwa pakaian yang kukenakan ketika itu agak tipis sehingga bila aku berjalan ke tempat terang tubuhku akan membayang di balik gaun tipisku.

“Oh ya Pak Hary masuk saja ke dalam soalnya hujan kan di luar dingin..”

“I.. Iya Bu..” jawab Pak Hary agak tergagap sebab lamunannya terputus oleh undanganku tadi. Jakunnya semakin naik turun dengan cepat. Aku tahu dia tentu telah lama takmenyentuh istrinya sejak melahirkan bulan kemarin, sebab umur kelahiran bayinya belum genap 40 hari.

Suasana sepi di rumahku ditambah dengan dinginnya malam membuat gairahku bergejolak menuntut penuntasan. Apa boleh buat aku harus mampu menundukannya. Pak Hary sangat terangsang melihat penampilanku yang sangat segar habis mandi tadi. Alhasil mungkin sebab taktahan atau sebab udara dingin dia minta ijin untuk ke kamar kecil.

“Eh.. Anu Bu.. Boleh minta ijin ke kamar kecil Bu”

“Silahkan Pak.. Pakai yang di dalam saja”

“Ah.. Enggak Bu aku enggak berani”

“Enggak apa-apa.. Itu Pak Hary masuk aja nanti dekat ruang tengah itu”

“Baik Bu..”

Sambil berdiri dia membetulkan celana seragam dinasnya yang ketat. Aku melihat ada tonjolan besar yang mengganjal di sela-sela pahanya. Aku membayangkan mungkin isinya sebesar tongkat pentungan yang senantiasa dibawa-bawanya ketika berjaga.. Atau bahkan mungkin lebih besar lagi.

Agak ragu-ragu dia melangkah masuk hingga aku berjalan di depannya sebagai pemandu jalan. Alhasil kutunjukkan kamar kecil yang dapat dipakainya. Begitu dia masuk aku pun pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil, sementara di luar hujan semakin lebat diiringi petir yang menyambar-nyambar.

Aku terkejut ketika aku keluar dari dapur tiba-tiba ada tangan kekar yang memelukku dari belakang. Toples kue hampir saja terlepas dari tanganku sebab kaget. Rupanya aku salah menduga. Pak Hary yang kukira takmempunyai keberanian ternyata tanpa kumulai telah mendahului dengan cara mendekapku. Napasnya yang keras menyapu-nyapu kudukku hingga membuatku merinding.

“Ma.. Maaf Bu, sa.. aku telah taktahan..” desisnya diiringi dengus napasnya yang menderu.

Lidahnya menjilat-jilat tengkukku hingga aku menggeliat sementara tangannya yang kukuh secara menyilang mendekap kedua dadaku. Untuk menjaga wibawaku aku pura-pura marah.

“Pak Hary .. Apa-apaan ini..” suaraku agak kukeraskan sementara tanganku mencoba menahan laju tangan Pak Hary yang semakin liar meremas payudaraku dari luar gaunku.

“Ma.. Af Bu sa.. saya.. Telah taktahan lagi..” diulanginya ucapanya yang tadi tetapi tangannya semakin liar bergerak meremas dan kedua ujung ibu jarinya memutar-mutar kedua puting payudaraku dari luar gaun tipisku.

Perlawananku semakin melemah sebab terkalahkan oleh desakan nafsuku yang menuntut pemenuhan. Apalagi tonjolan di balik celana Pak Hary yang keras menekan kuat di belahan kedua belah buah pantatku. Hal ini semakin membuat nafsuku terbangkit ditambah dinginnya malam dan derasnya hujan di luar sana. Suasana sangat mendukung bagi setan untuk menggoda dan menggelitik nafsuku.

Tubuhku semakin merinding dan kurasakan seluruh bulu romsaya berdiri saat jilatan lidah Pak Hary yang panas menerpa tulang belakangku. Tubuhku didorong Pak Hary hingga tengkurap di atas meja makan dekat dapur yang kokoh karena memang terbuat dari kayu jati pilihan. Saat itulah tiba-tiba salah satu tangan Pak Hary beralih menyingkap gaunku dan meremas kedua buah pantatku.

Saya semakin terangsang hebat saat tangan Pak Hary yang kasar menyusup celana dalam nylonku dan meremas pantatku dengan gemas. Sesekali jarinya yang nakal menyentuh lubang anusku.

Gila..!! Benar-benar lelaki yang kasar dan liar. Tapi saya senang karena suamiku biasanya memperlakukanku bak putri saat bercinta denganku. Ia selalu mencumbuku dengan lembut. Ini sensasi lain..!! Kasar dan liar…apa lagi samar-samar kucium aroma keringat Pak Hary yang berbau khas lelaki! Tanpa parfum…gila saya jadi terobsesi dengan bau khas seperti ini. Hal ini mengingatkanku pada saat saya bermain gila dengan Pak Sitor di kepulauan dahulu.

“Akhh..pakk..Hary nhh jangg…anhhhh” desahku antara pura-pura menolak dan meminta.

Ya, harus kuakui kalau saya benar-benar rindu pada jamahan lelaki kasar macam Pak Hary . Pak Hary yang sudah sangat bernafsu sudah tidak mempedulikan apa-apa lagi. Dengan beringas dan agak kasar digigitnya punggungku di sana-sini sehingga membuat saya menggeliat dan menggelepar seperti ikan kekurangan air. Apalagi saat bibirnya yang ditumbuhi kumis tebal seperti kumisnya pak Raden mulai menjilat-jilat pantatku.
“Akhh..pakk..akhh..jang..akhh”
Kepura-puraanku akhirnya hilang saat dengan agak kasar mulut Pak Hary dengan rakusnya menggigiti kedua belah pantatku!! Luar biasa sensasi yang kurasakan saat itu. Pantatku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menahan geli saat digigit Pak Hary . Mungkin kalau disyuting lebih dahsyat dibanding goyang ngebornya si Inul yang terkenal itu.

“Emhh..pantat ibu indahh…” kudengar Pak Hary menggumam mengagumi keindahan pantatku. Lalu tanpa rasa jijik sedikitpun lidahnya menyelusup ke dalam lubang anusku dan jilat sana jilat sini.

“Ouch…shh…Am..ampunnhhh” saya mendesis karena tidak tahan dengan rangsangan yang diberikan lelaki kasar yang sebenarnya harus menghormati kedudukanku di kantor. Saya benar-benar pasrah total.

Liang vaginsaya sudah berkedut-kedut seolah tak sabar menanti disodok-sodok. Rangsangan semakin hebat kurasakan saat tiba-tiba kepala Pak Hary menyeruak di sela-sela pahsaya dan mulutnya yang rakus mencium dan menyedot-nyedot liang vaginsaya dari arah belakang.

Secara otomatis kakiku melebar untuk memberikan ruang bagi kepalanya agar lebih leluasa menyeruak masuk. Saya sepertinya semakin gila. Karena baru kali ini saya bermain gila di rumahku sendiri. Tapi saya tak peduli yang penting gejolak nafsuku terpenuhi. Titik!

“Ouch… shh…terushhh.. Ohhh, Pak Hary hhh…”

Dari menolak saya menjadi meminta! Benar-benar gila!! Pantatku semakin liar bergoyang saat lidah Pak Hary menyelusup ke dalam alur sempit di selangkanganku yang sudah sangat basah dan menjilat-jilat kelentitku yang sudah sangat mengembang karena birahi. Saya merasakan ada suatu desakan maha dahsyat yang menggelora, tubuhku seolah mengawang dan ringan sekali seperti terbang ke langit kenikmatan. Tubuhku berkejat-kejat menahan terpaan gelora kenikmatan.

Pak Hary semakin liar menjilat dan sesekali menyedot kelentitku dengan bibirnya hingga akhirnya saya tak mampu lagi menahan syahwatku.

“Akhhh…Pak Hary nnhhh akhhh…”

Saya mendesis melepas orgasmeku yang pertama sejak seminggu kepergian suamiku ini. Nikmat sekali rasanya. Tubuhku bergerak liar untuk beberapa saat lalu akhirnya terdiam karena lemas. Napasku masih memburu saat Pak Hary melepaskan bibirnya dari gundukan bukit di selangkanganku. Lalu masih dengan posisi tengkurap di atas meja makan dengan setengah menungging tubuhku kembali ditindih Pak Hary .

Kali ini ia rupanya sudah menurunkan celana dinasnya karena saya merasakan ada benda hangat dan keras yang menempel ketat di belahan pantatku. Gila panas sekali benda itu! Saya terlalu lemas untuk bereaksi.

Beberapa saat kemudian saya merasakan benda itu mengosek-osek belahan kemaluanku yang sudah basah dan licin. Sedikit demi sedikit benda keras itu menerobos kehangatan liang kemaluanku. Sesak sekali rasanya. Mungkin apa yang kubayangkan tadi benar!! Karena selama ini saya belum pernah melihat ukuran, bentuk maupun warnanya! Tapi saya yakin kalau warnanya hitam seperti si empunya!!

Saya kembali terangsang saat benda hangat itu menyeruak masuk dalam kehangatan bibir kemaluanku.

“Hkkk…hhh.. shhh.. mem..mekhh Bu.. Ren..ni benar-benar legithhhh…” Gumam Pak Hary di sela-sela napasnya yang memburu. Didesakkannya batang kemaluan Pak Hary ke dalam lubang kemaluanku. Ouhhh lagi-lagi sensasi yang luar biasa menerpaku. Di kedinginan malam dan terpaan deru hujan kami berdua justru berkeringat…

Gila… Pak Hary menyetubuhiku di ruang makan tempat saya biasanya sarapan pagi bersama suamiku! Gaunku tidak dilepas semuanya, hanya disingkap bagian bawahnya sedangkan celana dalam nylonku sudah terbang entah kemana dilempar Pak Hary .

“Ouhh Pak Hary n.. ahhhh….”

Saya hanya mampu merintih menahan nikmat yang amat sangat saat Pak Hary mulai memompsaya dari belakang! Dengan posisi setengah menungging dan bertumpu pada meja makan, tubuhku disodok-sodok Pak Hary dengan gairah meluap-luap.

Tubuhku tersentak ke depan saat Pak Hary dengan semangat menghunjamkan batang kemaluannya ke dalam jepitan liang kemaluanku! Lalu dengan agak kasar ditekannya punggungku hingga dadsaya agak sesak menekan permukaan meja! Tangan kiri Pak Hary menekan punggungku sedangkan tangan kanannya meremas-remas buah pantatku dengan gemasnya.

Tanpa kusadari tubuhku ikut bergoyang seolah-olah menyambut dorongan batang kemaluan Pak Hary . Pantatku bergoyang memutar mengimbangi tusukan-tusukan batang kemaluan Pak Hary yang menghunjam dalam-dalam.

Suara benturan pantatku dengan tulang kemaluan Pak Hary yang terdengar di sela-sela suara gemuruh hujan menambah gairahku kian berkobar. Apalagi bau keringat Pak Hary semakin tajam tercium hidungku. Oh..inikah surga dunia… Tanpa sadar mulutku bergumam dan menceracau liar.

“Ouhmmm terushh.. terushh.. yang kerashhh..”

Saya menceracau dan menggoyang pantatku kian liar saat saya merasakan detik-detik menuju puncak.

“Putar, Bu…putarrrhh”

Kudengar pula Pak Hary menggeram memberiku instruksi untuk memuaskan birahinya sambil meremas pantatku kian keras. Batang kemaluannya semakin keras menyodok liang kemaluanku yang sudah kian licin. Saya merasakan batang kemaluan Pak Hary mulai berdenyut-denyut dalam jepitan liang kemaluanku.

Saya sendiri merasa semakin dekat mencapai orgasmeku yang kedua. Tubuhku serasa melayang. Matsaya membeliak menahan nikmat yang amat sangat. Tubuh kami terus bergoyang dan beradu, sementara gaunku sudah basah oleh keringatku sendiri. Pak Hary semakin keras dan liar menghunjamkan batang kemaluannya yang terjepit erat liang kemaluanku. Lalu tiba-tiba tubuhnya mengejat-ngejat dan mulutnya menggeram keras.

“Arghhh… terushhh, Buu… goyangghhhh… arghh…”

Batang kemaluannya yang terjepit erat dalam liang kemaluanku berdenyut kencang dan akhirnya saya merasakan adanya semprotan hangat di dalam tubuhku…

Serr.. serr.. serr…

Beberapa kali air mani Pak Hary menyirami rahimku seolah menjadi pengobat dahaga liarku. Tubuhnya kian berkejat-kejat liar dan tangannya semakin keras mencengkeram pantatku hingga saya merasa agak sakit dibuatnya. Tapi saya tak peduli. Tubuhku pun seolah terkena aliran listrik yang dahsyat dan pantatku bergerak liar menyongsong hunjaman batang kemaluan Pak Hary yang masih menyemprotkan sisa-sisa air maninya.

“Ouch… akhh.. terushh.. Pak Mar..sanhhh…”

Tanpa malu atau sungkan saya sudah meminta Pak Hary untuk lebih kuat menggoyang pantatnya untuk menuntaskan dahagaku.

Akhirnya saya benar-benar terkapar. Tulang-belulangku serasa terlepas semua. Benar-benar lemas saya dibuat oleh Pak Hary . Kami terdiam beberapa saat menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami peroleh.

Batang kemaluan Pak Hary kurasakan mulai mengkerut dalam jepitan liang kemaluanku. Perlahan namun pasti akhirnya batang kemaluan itu terdorong keluar dan terkulai menempel di depan bibir kemaluanku yang basah oleh cairan kami berdua.

Gila, banyak sekali Pak Hary mengeluarkan air maninya! Saya tahu itu karena banyaknya tumpahan air mani yang menetes dari lubang kemaluanku ke lantai ruang makan.

“Ibu benar-benar hebat… Saya jadi sayang Ibu…” bisik Pak Hary di telingaku.

Saya hanya diam antara menyesal telah melakukan kesalahan lagi terhadap suamiku dan terpuaskan hasrat liarku. Ya, saya baru saja disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku… Saya hanya bisa termenung memikirkan bahwa sejak hubunganku dengan Pak Sitor, betapa mudahnya kini saya menyerahkan diriku dan melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain.

Aaah…. tiba-tiba saya jadi sangat rindu dengan Pak Sitor… Ia benar-benar tahu cara memperlakukan dan membimbing seorang wanita. Sebagai pelampiasannya, kuremas tangan Pak Hary yang sedang memeluk tubuh bugilku. Ia tentu tak tahu kalau saya sebetulnya sedang memikirkan lelaki lain. Pak Hary dengan mesra lalu menciumi tengkuk dan telingaku.

Memang sejak Pak Sitor membuka mataku, saya jadi sangat menyukai seks… Saya pun mulai sadar bahwa untuk memuaskannya, sekarang saya jadi terbuka untuk melakukannya dengan laki-laki lain selain suamiku… Sangat luar biasa bahwa saya telah diajari untuk bersikap open-minded oleh seorang lelaki tua dari pedalaman yang tak berpendidikan seperti Pak Sitor.

“Su.. sudah, Pak… Nanti Mbok Sarmi bangun,” kulepas tangan Pak Hary yang masih memelukku.

Saya berusaha melepaskan diri dari jepitan tubuh Pak Hary yang kekar. Lalu saya meninggalkan Pak Hary yang masih bugil dan lemas begitu saja untuk bergegas ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Sekali lagi saya mandi di malam yang dingin itu.

Di bawah pancuran air dingin, saya terdiam memikirkan lagi apa yang sudah terjadi barusan. Ada beban biologis besar yang rasanya terlepas dari dalam diriku. Pak Hary sudah benar-benar mengeluarkannya dengan cara yang hebat… Di lain pihak, akal sehatku mulai kembali. Saya tahu saya telah kembali mengkhianati suamiku. Belum lagi memikirkan Pak Hary sebagai bawahanku yang kini telah terlibat hubungan intim denganku… Sejenak saya merasa bingung dengan sikapku sekeluarnya dari kamar mandi nanti… Setelah termenung beberapa lama di bawah pancuran air, akhirnya saya memutuskan untuk bersikap setenang mungkin. Semuanya pasti bisa ditangani….

Saya keluar dari kamar mandi dengan mengenakan babydollku yang sebetulnya agak kotor kena keringat. Baru kusadari betapa kacaunya ruang makanku! Meja makanku sudah bergeser tak karuan. Sementara kulihat celana dalam nylonku terlempar ke sudut ruangan dekat kulkas. Pak Hary masih membetulkan celana dinasnya.

“Bu, saya.. boleh numpang mandi, Bu…”

“Silakan, Pak.. Handuknya ada di dalam.”

Saya mengambil kain pel dan membersihkan cairan sisa-sisa persenggamaanku dengan Pak Hary yang berceceran di lantai. Sementara itu Pak Hary mandi di kamar mandi yang baru saja kupakai.
Permainan Kedua

Saya masih mengepel cairan sisa-sisa perjuangan kami tadi yang masih menempel di lantai. Tanpa kusadari tiba-tiba Pak Hary yang hanya mengenakan handuk memelukku lagi dari belakang.

Gila! Orang ini benar-benar bernafsu kuda!! Tubuhku diangkatnya dan hendak dibawa masuk ke kamar mandi.

“Jangan di situ, Pak…” bisikku. “Saya tidak mau bersetubuh di lantai kamar mandi yang dingin! Bisa-bisa masuk angin nanti!”

“Ke kamar tidur depan aja, Pak…”

Saya tahu tak mungkin saya menolak keinginan Pak Hary ! Apalagi saya juga menyukainya. Jadi saya menurut saja saat ia ingin menyetubuhiku lagi…

Akhirnya tubuhku dibopong ke kamar tidur depan yang memang khusus untuk tamu bila ada yang menginap. Kamar tamuku fasilitasnya komplit sesuai standar rumah berkelas. Kamar tamuku dilengkapi tempat tidur springbed, dan kamar mandi di dalam, serta AC!

Setelah menutup pintu kamar dengan kakinya, Pak Hary menurunkan tubuhku di lantai dan bibirnya mulai mencari-cari bibirku.

Saya diam saja saat bibirnya menyedot-nyedot bibirku. Kumisnya yang tebal terasa geli mengais-ngais hidungku. Saya semakin geli saat lidahnya berusaha menyusup ke dalam mulutku dan mengais-ngasi didalamnya. Tanpa sadar lidahku ikut menyambut lidah Pak Hary yang mendesak-desak dalam mulutku. Akhirnya kami saling pagut dengan liar dan menggelora.

Saya sudah tak peduli kalau Pak Hary itu adalah anak buahku. Yang kutahu adalah nafsuku mulai bangkit lagi. Apalagi tangan Pak Hary mulai menyingkap gaun baby dollku ke atas dan melepaskannya melalui kepalsaya hingga saya telanjang bulat di depannya! Gila saya telah telanjang bulat di depan anak buahku sendiri!! Saya memang belum sempat memakai celana dalam dan BH setelah mandi tadi. Lalu dengan sekali tarik Pak Hary melepas handuk yang melilit di pinggangnya hingga ia juga telanjang bulat di depanku!

Benar dugaanku! Ternyata batang kemaluannya berwarna hitam dengan rambut yang sangat lebat. Topi bajanya tampak mengkilat dan mengacung ke atas dengan gagahnya! Mungkin bila dijajarkan dengan pentungan yang biasa dibawanya ukurannya sedikit lebih besar!! Makanya tadi kurasakan betapa sempitnya liang vaginsaya menjepit benda itu!! Saya jadi tak merasa rugi menyerahkan tubuhku padanya…

Saya tidak sempat berlama-lama melihat pemandangan itu, karena sekali lagi Pak Hary menyergapku. Mulutnya dengan ganas melumat bibirku sementara tangannya memeluk erat tubuh telanjangku. Saya merasa kegelian saat tangannya meremas-remas pantatku yang telanjang. Saya semakin menggelinjang saat bibirnya mulai turun ke leher dan terus ke dua buah dadsaya yang padat menjadi sasaran mulutnya yang bergairah!

Gila.. Liar dan panas! Itulah yang dapat kugambarkan. Betapa tidak! Pak Hary mencumbuku dengan semangat yang begitu bergelora seolah-oleh harimau lapar menemukan daging! Agak sakit tapi nikmat saat kedua buah dadsaya secara bergantian digigit dan disedot dengan liar oleh mulut Pak Hary .

Tanganku pun dibimbing Pak Hary untuk dipegangkan ke batang kemaluannya yang tegak menjulang.

“Ouch… shhh… enakhhh..”

Mulutku tak sadar berbicara saat lidah Pak Hary yang panas dengan liar mempermainkan puting payudarsaya yang sudah mengeras. Sambil masih tetap memeluk tubuhku dan menciumi toketku, Pak Hary duduk di pinggir tempat tidur.

Dilepaskannya mulutnya dari payudarsaya dan kembali diciuminya bibirku dengan ganasnya. Saya jadi terjongkok didepan tubuh telanjang Pak Hary yang sudah duduk di pembaringan, saya jadi berdiri di atas kedua lututku. Payudarsaya yang kencang menjepit batang kemaluan Pak Hary yang hitam dan keras itu!

“Hhh…sssshh”

Pak Hary mendesis saat batang kemaluannya yang besar dan hitam itu terjepit toketku. Dipeluknya tubuhku dengan semakin ketat dan ditekankannya hingga payudarsaya semakin erat menjepit batang kemaluannya. Saya merasa kegelian saat bulu-bulu kemaluan Pak Hary yang sangat lebat menggesek-gesek pangkal toketku. Apalagi batang kemaluannya yang keras terjepit di tengah belahan kedua buah toketku, hal ini menimbulkan sensasi yang lain daripada yang lain.

Saya tidak sempat berlama-lama merasakan sensasi itu saat tangan Pak Hary yang kokoh menekan kepalsaya ke bawah. Diarahkannya kepalsaya ke arah kemaluannya, sementara tangan satunya memegang batang kemaluannya yang berdiri gagah di depan wajahku. Saya tahu ia menginginkan saya untuk mengulum batang kemaluannya.

Tanpa perasaan malu lagi kubuka mulutku dan kujilati batang kemaluan Pak Hary yang mengkilat. Gila besar sekali!! Mulutku hampir tidak muat dimasuki benda itu.

“Arghh..ter..terushhh, Buu…”

Mulut Pak Hary mengoceh tak karuan saat kumasukkan batang kemaluannya yang sangat besar itu ke dalam mulutku. Kujilati lubang di ujung kemaluannya hingga ia mendesis-desis seperti orang kepedasan. Sementara itu, kedua tangan Pak Hary terus memegangi kepalsaya seolah takut saya akan menarik kepalsaya dari selangkangannya.

Setelah beberapa lama, dengan halus kubelai tangan Pak Hary dan kulepaskan cengkeramannya dari kepalaku. Setelah itu, sambil mulut dan tanganku terus bekerja memanjakan penisnya, matsaya senantiasa menatap mata Pak Hary . Sesekali saya pun melempar senyum manisku padanya jika mulutku sedang tak dipenuhi oleh alat vitalnya. Dengan begitu, saya seolah ingin mengatakan padanya.

“Jangan khawatir. Saya tak akan menjauhkan kepalsaya dari selangkanganmu. Saya akan terus memanjakan penismu yang besar dan indah ini dengan mulut dan kedua tanganku….”

Pak Hary pun jadi lebih santai dan menikmati pekerjaanku yang kulakukan dengan penuh ketulusan.

Tidak puas bermain-main dengan batang kemaluannya saja, mulutku lalu bergeser ke bawah menyusuri guratan urat yang memanjang dari ujung kepala kemaluan Pak Hary hingga ke pangkalnya. Pak Hary semakin blingsatan menerima layananku! Tubuhnya semakin liar bergerak saat bibirku menyedot kedua biji telor Pak Hary secara bergantian.

“Ib.. Ibu.. heb..bathh… ohhh… sssshh.. akhhh…”

Saya semakin nakal, bibirku tidak hanya menyedot kantung zakarnya melainkan lidahku sesekali mengais-ngais anus Pak Hary yang ditumbuhi rambut. Pak Hary semakin membuka kakinya lebar-lebar agar saya lebih leluasa memuaskannya.

Saya tahu saya telah bertindak sangat gila. Saya yakin telah mengalahkan pelacur yang manapun saat memberikan layanan kepada pelanggannya. Seorang pelacur bahkan dibayar untuk melakukan itu semua. Sedangkan saya memberikannya secara gratis kepada Pak Hary ! Saya yakin Pak Hary pun belum pernah mendapatkan layanan istimewa ini dari wanita manapun, termasuk dari istrinya… Pastilah ini karena rasa horny yang telah menyelimuti sekujur tubuhku!

Beberapa saat kemudian tubuhku ditarik Pak Hary dan dilemparkannya ke tempat tidur.

Saya masih tengkurap saat tubuh telanjangku ditindih tubuh telanjang Pak Hary . Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dengan kakinya. Otomatis batang kemaluannya kini terjepit antara perutnya sendiri dan pantatku. Ditekannya pantatnya hingga batang kemaluannya semakin ketat menempel di belahan pantatku.

Tubuhku menggelinjang hebat saat lidahnya kembali menyusuri tulang belakangku dari leher terus turun ke punggung dan turun lagi ke arah pantatku.

Tanpa rasa jijik sedikitpun, lidah Pak Hary kini mempermainkan lubang anusku. Saya merasakan kegelian yang amat sangat tetapi saya tidak dapat bergerak karena pantatku ditekannya kuat-kuat. Saya hanya pasrah dan menikmati gairahnya…

Saya tahu Pak Hary melakukan itu karena saya pun telah melakukan hal yang sama padanya barusan. Saya sama sekali tak mengharapkan balas budi seperti itu, tapi tentu saja saya sangat berterima kasih pada Pak Hary karena saya pun kini dapat menikmatinya.

Seluruh tubuhku dijilatinya tanpa terlewatkan seincipun. Dari lubang anus, lidahnya menjalar ke bawah pahsaya terus ke lutut dan akhirnya seluruh ujung jariku dikulumnya. Benar-benar gila!! Rasa geli dan nikmat berbaur menjadi satu.

Setelah puas melumat seluruh jari kakiku, Pak Hary membalikkan tubuh telanjangku hingga kini saya terlentang di tempat tidur. Kakiku dibentangkannya lebar-lebar dan ia sekali lagi menindihku. Kali ini posisi kami saling berhadap-hadapan dengan tubuhku ditindih tubuh kekarnya.

Lidahnya kembali bergerak liar menjilati tubuhku. Sasarannya kali ini adalah daerah sensitif di belakang leherku. Saya menggelinjang kegelian. Bibir Pak Hary dengan ganasnya menyedot-nyedot daerah itu.

“Jang..jang..an dimerah ya, Pak…” erangku memohon padanya.

Tentu saja saya tidak mau disedot sampai merah soalnya besok pasti orang sekantor pada ribut.

“Tidak.. Bu…. saya cuma gemasss!!” desis Pak Hary sambil tetap menjilati bagian belakang telingaku.

“Tapi kalo di sini boleh kan?” katanya nakal sambil tiba-tiba menyedot toketku.

“Aaaauuwwww…..” jeritku terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba.

Rupanya Pak Hary dengan sengaja meninggalkan cupangan merah yang banyak di seputar kedua toketku. Tingkah lakunya seperti ingin menandai bahwa tubuhku sekarang telah jadi miliknya juga… Saya kegelian dan semakin bertambah horny karena aksinya itu. Saya hanya bisa berharap agar semua cupang itu telah hilang saat Bang Sapak pulang nanti.

Sementara itu tangannya terus bergerak liar meremas payudarsaya bergantian. Saya semakin mendesis liar saat mulut Pak Hary dengan liar dan gemas menyedot payudarsaya bergantian. Kedua puting payudarsaya dipermainkan oleh lidahnya yang panas sementara tangannya bergerak turun ke bawah dan mulai bermain-main di selangkanganku yang sudah basah. Liang vaginsaya berdenyut-denyut karena terangsang hebat, saat jari-jari tangan Pak Hary menguak labia mayorsaya dan menggesek-gesekkan jarinya di dinding lubang kemaluanku yang sudah semakin licin.
Bersambung : Senjata Tumpul Memainkan Memekku II (pukul 18:00) 

3 comments

  1. buat tante/cewek yg butuh temen ngobrol
    chatsex dll 5FF0CAA3
    no homo