Sex Dewasa Kisah Guru Rissa | Tempat Cerita Sex
Home » Kisah Guru » Sex Dewasa Kisah Guru Rissa

Sex Dewasa Kisah Guru Rissa

VIMAX Vimax

Kisah Sex Murid dan Guru, Cerita Mesum Ngentot Guru, Cerita Sex Guru Sange, Cerita Dewasa terbaru Guru– Suatu hari saat di rumah kebetulan hari itu sedang tanggal merah jadinya santai santai, kira kira pukul 11 siang aku dihampiri oleh anak kecil yg menyuruhku untuk datang ke rumah mba Rissa, ada apa gerangan dia memanggilku untuk datang ke rumahnya perlu di ketahui kalau mba Rissa itu juga guruku di sekolahan,

Karna rumah aku dan mba Rissa juga tak begitu jauh aku hanya berjalan kaki , entah kenapa akhir akhir ini di rumah mba rissa sering konslet listriknya , disiti aku sering di mintai bantuannya untuk membenarkan kadang membenarkan keran yg macet juga, kedekatan kami tdak sampai disitu aku dan mba Rissa sering pergi kadang ke gunung entah mencari pemandangan sempat juga kita pernah ML di rumput rumput yg panjang, dari situ mba rissa sering mengajakku untuk pergi dan main di rumahya.

Kisah Mesum Dewasa Kisah Guru Rissa

cerita sex guru sange, cerita dewasa guru binal, cerita mesum guru jablay, cerita guru ngentot, ngentot memek guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Ngentot Dewasa Kisah Guru Rissa

Setibanya di rumah Mba Rissa, suasana sepi. Keluarganya tampaknya sedang pergi. Betul, ketika aqu mengetuk pintu, hanya Mba Rissa yg tampak.

“Ayo, cepet masuk. Semua keluargaqu sedang pergi menghadiri acara hajatan saudara di luar kota,” sambut Mba Rissa sambil menggandeng tangganku.

cerita sex guru sange, cerita dewasa guru binal, cerita mesum guru jablay, cerita guru ngentot, ngentot memek guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Mesum Dewasa Kisah Guru Rissa

Darahku mendesir ketika membuntuti lamngkah Mba Rissa. Betapa tdak, pakaian yg dikenakan luar biasa sexy, hanya sejenis daster pendek hingga tonjolan toked dan pahanya terasa menggoda.

“Anu, Bud.. Listrik rumahku mati melulu. Mungkin ada ada kabel yg konslet. Tolong betulin, ya.. Kau tak keberatan kan,” pinta Mba Rissa kemudian.

Tanpa banyak basa-basi Mba Rissa menggandengku masuk ke ruang tengah, kemudian masuk ke sebuah kamar.

cerita sex guru sange, cerita dewasa guru binal, cerita mesum guru jablay, cerita guru ngentot, ngentot memek guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Sex Dewasa Kisah Guru Rissa

“Nah saya curiga jaringan di kamar ini yg rusak. Buruan kau teliti ya. Nanti keburu mahrib.”

Aqu hanya menuruti segala permintaannya. Setelah merunut jaringan kabel, akhirnya aqu memutuskan untuk memanjat atap kamar melalui ranjang. Tapi aqu tdak tahu persis, kamar itu tempat tidur siapa.

Yg jelas, aqu sangat yakin itu bukan kamarnya bapak-ibunya. Celakanya, ketika aqu menelusuri kabel-kabel, aqu belum menemukan kabel yg lecet. Semuanya beres. Kemudian aqu pindah ke kamar sebelah.

Aqu juga tak bisa menemukan kabel yg lecet. Kemudian pindah ke kamar lain lagi, sampe akhirnya aqu harus meneliti kamar tidur Mba Rissa sendiri, sebuah kamar yg dipenuhi dengan aneka lukisan sensual.

Celakanya lagi, ketika hari telah gelap, aqu belum bisa menemukan kabel yg rusak. Akibatnya, rumah Mba Rissa tetap gelap total. Dan aqu hanya mengandalkan bantuan sebuah senter serta lilin kecil yg dinyalakan Mba Rissa.

Lebih celaka lagi, tiba-tiba hujan deras mengguyur seantero kota. Tdak-bisa tdak, aqu harus berhenti. Maunya aqu ingin melanjutkan pekerjaan itu besok pagi.

“Wah, maaf Mba aqu tak bisa menemukan kabel yg rusak. Ku pikir, kabel bagian puncak atap rumah yg kurang beres. Jadi besok aqu harus bawa tangga khusus,” jelasku sambil melangkah keluar kamar.

“Yah, tak apa-apa. Tapi sorry yah. Aqu.. Merepotkanmu,” balas Mba Yanti, “Itu es tehnya diminum dulu.”

Sementara menunggu hujan reda, kami berdua bercakap-cakap berdua di ruang tengah. Cukup banyak cerita-cerita masalah pribadi yg kami tukar, termasuk hubunganku dengan Mba Rissa selama ini.

Mba Rissa juga tdak ketinggalan menanyakan soal puisi indah tulisannya yg dia kirimkan padaqu lewat kado ulang tahunku beberapa bulan lalu.

Entah bagaimana awalnya, tahu-tahu nada percakapan kami berubah mesra dan menjurus ke arah yg menggairahkan jiwa. Bahkan, Mba Rissa tak segan-segan membelai wajahku, mengelus telingku dan seterusnya.

Tak sadar, tubuh kami berdua jadi berhimpitan hingga menimbulkan rangsangan yg cukup berarti untukku. Apalagi setelah dadaqu menempel erat pada tokednya yg berukuran tdak begitu besar namun bentuknya indah dan kencang.

Dan tak ayal lagi, kont*lku pun mulai berdiri mengencang. Aqu tak sadar, bahwa aqu sudah terangsang oleh guru sekolahku sendiri! Namun hawa nafsu birahi yg mulai melandaqu sepertinya mengalahkan akal sehatku.

Mba Rissa sendiri juga tampaknya memiliki pikiran yg saja. Ia tdak henti-hentinya mengulumi bibirku dengan nafsunya.

Akhirnya, nafsuku sudah tak tertahankan lagi. Sementara bibirku dan Mba Rissa masih tetap saling memagut, tanganku mulai menggeraygi tubuh guru sekolahku itu. www.tempatceritasex.com, Kujamah gundukan daging kembar yg menghiasi dengan indahnya dada Mba Rissa yg masih berpakaian lengkap. Dengan segera kuremas-remas bagian tubuh yg sensitif tersebut.

“Aaah.. Budi.. Aah..” Mba Rissa mulai melenguh kenikmatan. Bibirnya masih tetap melahap bibirku.

Mengetahui Mba Rissa tdak menghalangiku, aqu semakin berani. Remasan-remasan tanganku pada tokednya semakin menjadi-jadi.

Sungguh suatu kenikmatan yg baru pertama kali kualami meremas-remas benda kembar indah nan kenyal milik guru sekolahku itu. Melalui kain blus yg dikenakan Mba Rissa kuusap-usap ujung tokednya yg begitu menggiurkan itu. Tubuh Mba Rissa mulai bergerak menggelinjang.

“Uuuhh.. Mba..” Aqu mendesah saat merasakan ada jamahan yg mendarat di selangkanganku.
Kont*lku pun bertambah menegang akibat sentuhan tangan Mba Rissa ini, membuatku bagian selangkangan celana panjangku tampak begitu menonjol.

Mba Rissa juga merasakannya, membuatnya semakin bernafsu meremas-remas kont*lku itu dari balik celana panjangku. Nafsu birahi yg menggelora nampaknya semakin menenggelamkan kami berdua, sehingga membuat kami melupakan hubungan kami sebagai guru-murid.

“Aaauuhh.. Bud.. Uuuh..” Mba Rissa mendesis-desis dengan Putrinya karena remasan-remasan tanganku di tokednya bukannya berhenti, malah semakin merajalela. Matanya terpejam merasa kenikmatan yg begitu menghebat.

Tanganku mulai membuka satu persatu kancing blus Mba Rissa dari yg paling atas hingga kancing terakhir. Lalu Mba Rissa sendiri yg menanggalkan blus yg dikenakannya itu.

Aqu terpana sesaat melihat tubuh guru sekolahku itu yg putih dan mulus dengan tokednya yg membulat dan bertengger dengan begitu indahnya di dadanya yg masih tertutup beha katun berwarna krem kekuningan.

Tetapi aqu segera tersadar, bahwa pemandangan amboi di hadapannya itu memang tersedia untukku, terlepas itu milik guru sekolahku sendiri.

Tdak ingin membuang-buang waktu, bibirku berhenti menciumi bibir Mba Rissa dan mulai bergerak ke bawah. Kucium dan kujilati leher jenjang Mba Rissa, membuatnya menggerinjal-gerinjal sambil merintih kecil.

Sementara itu, tanganku kuselipkan ke balik beha Mba Rissa sehingga menungkupi seluruh permukaan toked sebelah kanannya. Puting susunya yg tinggi dan mulai mengeras begitu menggelitik telapak tanganku.

Segera kuelus-elus puting susu yg indah itu dengan telapak tanganku. Kepala Mba Rissa tersentak menghadap ke atas sambil memejamkan matanya. Tdak puas dengan itu, ibu jari dan telunjukku memilin-milin puting susu Mba Rissa yg langsung saja menjadi sangat keras.

Memang baru kali ini aqu menggeluti tubuh indah seorang wanita. Namun memang insting kelelakianku membuatku seakan-akan sudah mahir melaqukannya.

“Uhh.. Hmm ahh..” Mba Rissa tdak dapat menahan desahan-desahan nafsunya.

Segala gelitikan jari-jemariku yg dirasakan oleh toked dan puting susunya dengan bertubi-tubi, membuat nafsu birahinya semakin membulak-bulak.

Kupegang tali pengikat beha Mba Rissa lalu kuturunkan ke bawah. Kemudian beha itu kupelorotkan ke bawah sampe ke perut Mba Rissa. Puting susu Mba Rissa yg sudah begitu mengeras itu langsung mencelat dan mencuat dengan indahnya di depanku.

Aqu langsung saja melahap puting susu yg sangat menggiurkan itu. Kusedot-sedot puting susu Mba Rissa. Kuingat masa kecilku dulu saat masih menyusu pada toked ibuku. Bedanya, tentu saja toked guru sekolahku ini belum dapat mengeluarkan air susu.

Mba Rissa menggeliat-geliat akibat rasa nikmat yg begitu melanda kalbunya. Lidahku dengan mahirnya, tak ayal menggelitiki puting susunya sehingga pentil yg sensitif itu melenting ke kiri dan ke kanan terkena hajaran lidahku.

“Oooh. Buud’ desahan Mba Rissa semakin lama bertambah keras. Untung saja rumahnya sedang sepi dan letaknya memang agak berjauhan dari rumah yg paling dekat, sehingga tdak mungkin ada orang yg mendengarnya.

Belum puas dengan toked dan puting susu Mba Rissa yg sebelah kiri, yg sudah basah berlumuran air liurku, mulutku kini pindah merambah bukit membusung sebelah kanan. Apa yg kuperbuat pada belahan indah sebelah kiri tadi, kuperbuat pula pada yg sebelah kanan ini.

Toked sebelah kanan milik guru sekolahku yg membulat indah itu tak luput menerima jelajahan mulutku dengan lidahnya yg bergerak-gerak dengan Putrinya. Kukulum ujung toked Mba Rissa. Lalu kujilati dan kugelitiki puting susunya yg tinggi.

Puting susu itu juga sama melenting ke kiri dan ke kanan, seperti halnya puting susu tokednya yg sebelah kiri tadi. Mba Rissa pun semakin merintih-rintih karena merasakan geli dan nikmat yg menjadi-jadi berbaur menjadi satu padu. Seperti tengah minum soft drink dengan memakai sedotan plastik, kuseruput puting susu guru sekolahku itu.

“Aaahh.. Hmm..” Mba Rissa menjerit panjang.

Lidahku tetap tak henti-hentinya menjilati puting susu Mba Rissa yg sudah demikian kerasnya. Sementara itu tanganku mulai bergerak ke arah bawah. Kubuka retsleting celana jeans yg Mba Rissa kenakan. Kemudian dengan sedikit dibantunya sambil tetap merem-melek, kutanggalkan celana jeans itu ke bawah hingga ke mata kaki.

Tubuh bagian bawah Mba Rissa sekarang hanya dilindungi oleh selembar celana dalam dengan bahan dan warna yg seragam dengan behanya. Meskipun begitu, tetap dapat kulihat warna kehitaman samar-samar di bagian selangkangannya.

Ditunjang oleh nafsu birahi yg semakin menjulang tinggi, tanpa berpikir panjang lagi, kulepas pula kain satu-satunya yg masih menutupi tubuh Mba Rissa yg memang sintal itu. Dan akhirnya tubuh mulus guru sekolahku itu pun terhampar bugil di depanku, siap untuk kunikmati.

Tak ayal, jari tengahku mulai menjamah bibir meqi Mba Rissa di selangkangannya yg sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu tipis kehitaman walaupun belum begitu banyak. Kutelusuri sekujur permukaan bibir meqi itu secara melingkar berulang-ulang dengan lembutnya.

Tubuh Mba Rissa yg masih terduduk di sofa melengkung ke atas dibuatnya, sehingga tokednya semakin membusung menjulang tinggi, yg masih tetap dilahap oleh mulut dan bibirku dengan tanpa henti.

“Ooohh..

Jari tengahku itu berhenti pada gundukan daging kecil berwarna kemerahan yg terletak di bibir meqi Mba Rissa yg mulai dibasahi cairan-cairan bening. Mula-mula kuusap-usap daging kecil yg bernama klitoris ini dengan perlahan-lahan. Lama-kelamaan kunaikkan temponya, sehingga usapan-usapan tersebut sekarang sudah menjadi gelitikan, bahkan tak lama kemudian bertambah lagi intensitasnya menjadi sentilan.

Klitoris Mba Rissa yg bertambah merah akibat sentuhan jariku yg bagaikan sudah profesional, membuat tubuh pemiliknya itu semakin menggerinjal-gerinjal tak tentu arahnya.

Melihat Mba Rissa yg tampak semakin merangsang, aqu menambah kecepatan gelitikanku pada klitorisnya. Dan akibatnya, klitoris Mba Rissa mulai membengkak. Sementara meqinya pun semakin dibanjiri oleh cairan-cairan kenikmatan yg terus mengalir dari dalam lubang keramat yg masih sempit itu.

Puas menjelajahi klitoris Mba Rissa, jari tengahku mulai merangsek masuk perlahan-lahan ke dalam meqi guru sekolahku itu. Setahap demi setahap kumasukkan jariku ke dalam meqinya. Mula-mula sebatas ruas jari yg pertama.

Dengan susah payah memang, sebab meqi Mba Rissa memang masih teramat sempit. Kemudian perlahan-lahan jariku kutusukkan lebih dalam lagi. Pada saat setengah jariku sudah amblas ke dalam meqi Mba Rissa, terasa ada hambatan. Seperti adanya selaput yg cukup lentur.

“Hmm.. Bud..”

Mba Rissa merintih kecil seraya meringis seperti menahan rasa sakit. Saat itu juga, aqu langsung sadar, bahwa yg menghambat penetrasi jari tengahku ke dalam meqi Mba Rissa adlh selaput daranya yg masih utuh.

Ternyata guru sekolahku satu-satunya itu masih perawan. Baru aqu tahu, ternyata sebandel-bandelnya Mba Rissa, ternyata guru sekolahku itu masih sanggup memelihara kehormatannya. Aqu sedikit salut padanya. Dan untuk menghargainya, aqu memutuskan tdak akan melanjutkan perbuatanku itu.

“Bud.. Jangan berhenti..” tanya Mba Rissa dengan nafas terengah-engah.

“Mba, Mba kan masih perawan. Nanti kalau aqu terusin kan Mba bisa..”

Mba Rissa malah menjulurkan tangannya menggapai selangkanganku. Begitu tangannya menyentuh ujung kont*lku yg masih ada di dalam celana pendek yg kupakai, kont*lku yg tadinya sudah mengecil, sontak langsung bergerak mengeras kembali.

Ternyata sentuhan lembut tangannya itu berhasil membuatku terangsang kembali, membuatku tdak dapat membantah apapun lagi, bahkan aqu seperti melupakan apa-apa yg kukatakan barusan.

Dengan secepat kilat, Mba Rissa memegang kolor celana pendekku itu, lalu dengan sigap pula celanaqu itu dilucutinya sebatas lutut. Yg tersisa hanya celana dalamku. Mata Mba Rissa tampak berbinar-binar menyaksikan onggokan yg cukup besar di selangkanganku.

Diremas-remasnya kont*lku dengan tangannya, membuat kont*lku itu semakin bertambah keras dan bertambah panjang. Kutaksir panjangnya sekarang sudah bertambah dua kali lipat semula. Bukan main! Semua ini akibat rangsangan yg kuterima dari guru sekolahku itu sedemikian hebatnya.

“Mba.. Aqu buka dulu ya,” tanyaqu sambil menanggalkan celana dalamku.

Kont*lku yg sudah begitu tegangnya seperti meloncat keluar begitu penutupnya terlepas.

“Aw!” Mba Rissa menjerit kaget melihat kont*lku yg begitu menjulang dan siap tempur.

Namun kemudian ia meraih kont*lku itu dan perlahan-lahan ia menggosok-gosok batang ‘meriam’-ku itu, sehingga membuat otot-otot yg mengitarinya bertambah jelas kelihatan dan batang kont*lku itu pun menjadi laksana tonggak yg kokoh dan siap menghujam siapa saja yg menghalanginya.

Kemudian Mba Rissa menarik kont*lku dan membimbingnya menuju selangkangannya sendiri. Diarahkannya kont*lku itu tepat ke arah lubang meqinya.

Sekilas, aqu seperti sadar. Astaga! Mba Rissa kan guru sekolahku sendiri! Apa jadinya nanti jika aqu sampe menyetubuhinya? Apa kata orang-orang nanti mengetahui aqu berhubungan seks dengan guru sekolahku sendiri?

Akhirnya aqu memutuskan tdak akan melaqukan penetrasi lebih jauh ke dalam meqi Mba Rissa. Kutempelkan ujung kont*lku ke bibir meqi Mba Rissa, lalu kuputar-putar mengelilingi bibir gua tersebut. Mba Rissa menggerinjal-gerinjal merasakan sensasi yg demikian hebatnya serta tdak ada duanya di dunia ini.

“Aaahh.. Uuuhh..” Mba Rissa mendesah-desah dengan Putrinya sewaktu aqu sengaja menyentuhkan kont*lku pada klitorisnya yg kemerahan dan kini kembali membengkak. Sementara bibirku masih belum puas-puasnya berpetualang di toked Mba Rissa itu dengan puting susunya yg menggairahkan.

Terlihat toked guru sekolahku itu dan daerah sekitarnya basah kuyup terkena jilatan dan lumatanku yg begitu menggila, sehingga tampak mengkilap.

Aqu perlahan-lahan mulai memasukkan batang kont*lku ke dalam lubang meqi Mba Rissa. Sengaja aqu tdak mau langsung menusukkannya. Sebab jika sampe kebablasan, bukan tdak mungkin dapat mengoyak selaput daranya. Aqu tdak mau melaqukan perbuatan itu, sebab bagaimanapun juga Mba Rissa adlh guru sekolahku, darah dagingku sendiri!

Mba Rissa mengejan ketika kusodokkan kont*lku lebih dalam lagi ke dalam meqinya. Sewaktu kira-kira kont*lku amblas hampir setengahnya, ujung ‘tonggak’-ku itu ternyata telah tertahan oleh selaput dara Mba Rissa, sehingga membuatku menghentikan hujaman kont*lku itu.

Segera saja kutarik kont*lku perlahan-lahan dari liang surgawi milik guru sekolahku itu. Gesekan-gesekan yg terjadi antara batang kont*lku dengan dinding lorong meqi Mba Rissa membuatku meringis-ringis menahan rasa nikmat yg yg tak terhingga.

Baru kali ini aqu merasakan sensasi seperti ini. Lalu, kembali kutusukkan kont*lku ke dalam meqi Mba Rissa sampe sebatas selaput daranya lagi dan kutarik lagi sampe hampir keluar seluruhnya.

Begitu terus kulaqukan berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan setengah batang kont*lku ke dalam meqi Mba Rissa. Dan temponya pun semakin lama semakin kupercepat. Gesekan-gesekan batang kont*lku dengan Rissang meqi Mba Rissa semakin menggila.

Rasanya tdak ada lagi di dunia ini yg dapat menandingi kenikmatan yg sedang kurasakan dalam permainan cintaqu dengan guru sekolahku sendiri ini. Kenikmatan yg pertama dengan kenikmatan berikutnya, disambung dengan kenikmatan selanjutnya lagi, saling susul-menyusul tanpa henti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*