Ngentot Anak Didik Sekolah | Tempat Cerita Sex
Home » Kisah Guru » Ngentot Anak Didik Sekolah

Ngentot Anak Didik Sekolah

VIMAX Vimax

Cerita Sex Hot Terbaru, Cerita bokep new, cerita ML Siswi, Cerita Ngentub Memek Murid,  – Stlah aqu pindah kontrakan, aqu banyak murung. Aqu selalu teringat Yeyen. Untuk menghilangkan pikiran itu, aqu konsentrasikan pada pelajaran. Akhirnya aqu lulus dengan nilai memuaskan. Sangat memuaskan.

Sekarang aqu harus bsa sekolah ke STM. Aqu ingin bsa bekerja untuk meringankan beban orang tuaqu. Oh ya, Warungku selain menjual rokok, barang-barang pokok seperti sabun, beras, dll juga sekarang sudah menjadi warung makan.

Ini berkat kepandaian bapakku mengelola keuangan. Kalau dulu uangnya hanya disimpan oleh ibu. Terkadang bapakku juga menerima pesanan pembuatan lemari dari kayu atau memperbaiki mesin mobil yang rusak.

Cerita Dewasa Mesum Siswi Sekolah

cerita ML siswi, Cerita sex Memek Becek, Cerita Siswi Sange, Cerita Hot siswi ngentot, cerita mesum siswi, cerita sex guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Mesum Anak Didik Sekolah

Akhirnya aqu bsa diterima di STM Negeri di daerah Santa, Kebayoran. Dikarenakan saat test masuk, aqu termasuk 10 besar, maka otomatis aqu mendapat bea siswa selama 1 tahun. Ini bsa dipertahankan asal aqu selama sekolah bsa mendapat rangking di kelas. Minimal rangking 3.Yeyen, lihatlah prestasiku, seharusnya aqu berbagi kebahagiaan ini denganmu.

Akhirnya aqu sekolah di STM itu tanpa bayar malah dibayar sebagai uang saqu. Bapak ibuku sangat bangga dengan hal itu. Bapak Ibu sering cerita kepada orang-orang yang datang minum kopi. Aqu sudah bsa melupakan Yeyen. Mungkin karena temanku laki-laki semua.

cerita ML siswi, Cerita sex Memek Becek, Cerita Siswi Sange, Cerita Hot siswi ngentot, cerita mesum siswi, cerita sex guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Dewasa Anak Didik Sekolah

Pada akhirnya, saat aqu kelas 1, saat umurku 15 tahun, aqu mendapat tawaran dari tetanggaqu Om Candra untuk mengajari Matematika anaknya yang kelas 2 SMP. Karena ibuku cerita bahwa nilai Matematikaqu di ijasah SMP adlah 9. Dia cerita kalau anaknya lemah di Matematika dan IPA. Sedangkan nilai untuk pelajaran IPS adlah lumayan.

Aqu belum menyanggupinya, karena aqu belum pernah mengajar kecuali pada Yeyen. Hingga suatu saat dia membawakan raport anaknya. Aqu kaget sekali ternyata nilai raport untuk Matematika-nya tak pernah lebih dari 5.

Sedangkan Fisika-nya paling tinggi adlah 6, yang lain 7 dan 6.Tak ada yang 8. “Ini pasti naik kelasnya dikatrol,” batinku. Aqu kasihan sekali akhirnya kusanggupi. Kulihat photonya, namanya, umurnya dll. Siti Maesaroh 13 tahun. “Hmm.. cantik juga,” batinku.

Stlah perjanjian mengenai target, berapa dia membayarku serta jadwalnya, akhirnya les privat tersebut akan dimulai bulan depan. Satu minggu 3 kali masing-masing selama 2 jam. Dimulai jam 4 sampai jam 6 sore.

cerita ML siswi, Cerita sex Memek Becek, Cerita Siswi Sange, Cerita Hot siswi ngentot, cerita mesum siswi, cerita sex guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Ngesex Anak Didik Sekolah

Selasa, kamis dan sabtu setiap pulang sekolah. Matematika, Fisika dan Kimia. Ibu sangat bangga karena yang diajari adlah anak orang kaya yang terpandang di daerahku.

Aqu harus membaca kurikulum Matematika dan Fisika untuk SMP. Kubeli bukunya di tukang loak di daerah cipete lalu kubuat daftar pengajaran serta daftar kemajuan. Akhirnya saat itupun tiba.

Dengan naik sepeda kebanggaanku (kubeli sepeda bekas murah dan memperbaikinya), sampailah aqudi rumah Om Candra. Dengan sedikit grogi, kuketok rumahnya. Akhirnya pembantunya yang keluar.”Mas Pri yaa.

Ayo masuk Mas,” kata Siti nama pembantunya. Wah, rumahnya besar banget. Aqu celingak celinguk mengagumi rumah itu. Lalu aqu diantarkan ke ruang belajar di lantai atas. Sementara itu di atas meja sudah terhidang segelas kopi susu dan pisang goreng.

cerita ML siswi, Cerita sex Memek Becek, Cerita Siswi Sange, Cerita Hot siswi ngentot, cerita mesum siswi, cerita sex guru, cerita guru terbaru 2017, cerita guru ngentot 2017, kumpulan cerita guru ngentot 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata guru ngentot 2017, koleksi cerita guru ngentot 2017,

Ngentot Anak Didik Sekolah

Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya seorang gadis keluar dari kamarnya. Aqu melongo melihatnya. Ini bidadari atau apa..? Cantiknya melebihi yang ada diphoto raportnya. Yeyenku yang cantik kalah jauh bila dibandingkan dia.

Dia memakai baju terusan warna krem. Matanya bulat, hidungnya mancung, bibirnya tipis, alisnya cukup tebal, giginya putih berbaris rapi, rambutnya sebahu, kulitnya putih, tinggi semampai, dadanya sudah menonjol cukup besar.

Maklumlah sekolahku yang STM semuanya laki-laki dan lingkungan rumahku adlah lingkungan kampung, makajarang sekali kulihat wanita cantik. Ada yang mulai mengeras. “Seandainya.. Aahh.. Ini adlah muridku dan dia bukan levelku,” batinku memperingatkanku.

“Lho, kok bengong Mas.”

“Oh.. eehh.. Mas lupa kalau yang diajarin itu perempuan. Seingat Mas laki-laki,” kataqu mengelak.

“Namanya siapa Mas.. aqu dhiah bastian, biasa dipanggil Dhiah.”

“Aqu Prihatin, biasa dipanggil Pri atau Atin. Panggil aja Mas Pri,” sahutku..

“Oke bsa kita mulai..? Mau Matematika dulu, Fisika atau Kimia?” sambungku lagi.

“Mmmhh.. matematika aja dulu deh Mas..” sahutnya.

Lalu aqu mulai mengajarkannya. Ternyata Dhiah bukanlah bodoh tapi karena dasarnya kurang, maka kukonsentrasikan dia dulu kepada dasar Matematika kelas 1 SMP. Baru stlah itu Fisika dan Kimianya. siswi ngentot

Stlah beberapa kali pertemuan, akhirnya dia bsa mendalami dan memahami dasar-dasar Matematika yang merupakan dasar Fisika dan Kimianya. Ini terbukti kadang-kadang sengaja aqu berbuat salah dan dia mengkoreksinya.

Selebihnya tugasku jadi ringan, karena tinggal menerangkan sebentar, dia langsung mengerti. Dan aqu tinggal mengoreksi saja. Bahkan dia kubekali dua tingkat lebih tinggi dari kurikulum sekolahnya. Aqu bangga ternyata muridku bukanlah anak yang bodoh.

Ayahnya adlah seorang Cina keturunan. Bekerja di Mandala Airways sebagai kepala pemadhiahn. Ibunya adlah orang Pakistan yang bekerja di kedutaan. “Pantas aja anaknya cantik-cantik semua.” batinku. “Udah cantik, kaya lagi.” Mobilnya saja saat itu ada 3 buah. Ibunya, bapaknya, dan satu lagi untuk antar jemput sekolah dhiah Pembantunya ada 3, tukang kebunnya 1, sopirnya 3.

Bapaknya berangkat jam 7 pagi dan pulangnya rata-rata jam 8 malam.Ibunya dua minggu sekali pergi ke Pakistan. Seringnya 3 hari kadang-kadang pernah sampai 8 hari. Pergaulannya sangat dibatasi oleh bapaknya. Jadi kalau pulang sekolah harus pulang, tidak boleh ke mana-mana. Kalau mau pergi, malamnya harus ijin dulu ke bapaknya dan itupun harus diantar oleh sopirnya. Jadi dia bsa dibilang kesepian untuk anak seumurnya. Walaupun semua fasilitas dia punya.

Selama mengajar, aqu tak berani kurang ajar padanya. Pertama aqu taqut targetku supaya raportnya tak merah tak berhasil, kedua karena aqu sangat minder dengannya. Terutama dari segi kekayaan. Walaupun itu milik orang tuanya.

Paling-paling, aqu hanya melirik ke bukit kembarnya dan menatap wajahnya saat dia menulis, mengintip celana dalamnya saat dia memakai rok mini.Terkadang malah curi-curi mencium harum rambutnya saat menerangkan sesuatu. Memang kadang-kaadang kami belajar di meja belajar atau sambil duduk di karpet. Sepertinya aqu jatuh cinta sama muridku ini. Tapi terus terang aqu taqut.

Suatu hari, kulihat dia sangat murung. Belajarnya kurang semangat. Wah, bsa kacau nih. Bsa-bsa aqu nanti nggak dibayar sama bapaknya. Perjanjiannya adlah kalau terima raport nanti masih merah, maka aqu tidak dibayar. Padahal 1 bulan lagi dia mau ulangan umum.
“dhiah, kmu kenapa? kok kayaknya ada masalah..?” tanyaqu.

“Ngaak.. nggak pa-pa kok.” sahutnya tidak bersemangat.

Stlah diplomasi sambil belajar, akhirnya stlah selesai belajar dia mau juga ngomong. Ternyata dia itu naksir Joko, anak kelas 3 yang jadi bintang basket di sekolahnya. Sedangkan Joko lebih memilih Susi yang satu kelas dengan Joko. Oh, masalah cinta monyet toh. Aqu senyum seorang diri.

“Lhoo.. Mas kok senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Bukannya bantuin gmna gitu.” gerutunya.

“Wah kalau soal cinta, Mas nggak bsa ngapa-ngapain. Mas khan cuman jadi guru Matematika sama IPA. Kalau ditambahin jadi guru cinta, Mas mau bantuin,” sahutku bercanda.

“Oke deh, sekarang kalo Mas aqu angkat jadi guru cinta, Mas berbuat apa kalau jadi aqu?” tanyanya.

“Yaa.. nggak tahu. Mas khan laki-laki,” bantahku.

“Oke deh, kalau lelaki itu ngeliat perempuan dari apanya.”

“Walaupun Mas belum pengalaman sama perempuan, Mas juga sekolahnya di STM, tapi karena Mas menang umur dari kmu, Mas coba jelasin semampu Mas ya.”

Lalu kujelaskan semampuku tentang pandangan lelaki terhadap perempuan. Kalau lelaki itu melihat perempuan dari penampilannya, bentuk tubuhnya, kepribadiannya, dll juga karena sering ketemu. Dia memperhatikanku dengan seksama. Kami jadi lebih sering beradu pandang, berdebat. Aqu jadi makin tertarik dengan muridku ini.

Aduh gmna sih nih.. Kok jadinya begini.

“Menurut mas, Dhiah ini cantik nggak?” tanyanya.

“Dhiah itu gadis yang tercantik yang Mas pernah liat,” sahutku jujur sambil menatap wajahnya.

“Bayangin sudah tercantik ditambahin paling..” tambahku lagi.

Wajahnya langsung bersemu merah dan tersenyum. Bukan main cantiknya kalau lagi begitu.

“Bener.. Mas.. kalau body-ku?” tanyanya lagi sambil berdiri, muter-muter di depanku. Dadanya disorongkan ke depan.

Oh ya, saat itu dia memakai celana pendek agak gombrong, kaos Mickey Mouse sehingga BH-nya membayang sedikit.

“Body kmu juga bagus banget. Tinggi, sory ya.. toket kmu juga bagus, pantatmu bulet, kakimu jenjang,” kataqu lagi sambil melihat seluruh tubuhnya.

Saat aqu bilang dadamu bagus, dia langsung memegang dadanya.

“Mas nggak bohong khaann..?” katanya sambil memegang lenganku ditempelkan ke dadanya. Lunak dan hangat. Mau nggak mau penisku jadi tegang saat itu.

“Jujur demi Tuhan,” kataqu meyakinkan.

Karena aqu sudah tidak kuat lagi, aqu minta ijin pulang padanya.

“Yaa.. Mas kok pulang siicchh.”

“Iyaa.. Mas ada perlu. Besok kalau nggak ada keperluan, Mas mau nemenin Dhiah deh..” sahutku.

Aqu bangun agak tertunduk, maklum terpedoku ketekuk.

“Knapa Mass,” tanya Dhiah.

“Aqu kesemutan nih,” elakku.

Dibantunya aqu berdiri, entah kenapa lenganku menyentuh susunya lagi dan dia pun tidak merasa risih. Teras lunak dan hangat. Makin sakit rasa terpedoku.

“Udah ya.. sampe besok Sabtu.” kataqu.

Hari Sabtunya aqu datang lagi. Kok rumahnya sepi. Pada kemana..? Biasanya kalau Sabtu bapak dan ibunya sudah pulang. Dan mereka pergi jalan-jalan malam harinya.

“Pada kemana Sar, kok sepi,” tanyaqu ke Dhiah saat ketemu.

“Papa tugas ke Palembang 3 hari, Mama ke Pakistan, katanya sih sekitar 4 harian. Si Siti sama Imah izin ke Garut. Tinggal Mang Ujang (sopirnya), Pak Parno (tukang kebun) sama Bi Inah,” katanya.

Ternyata sopir bapak dan ibunya adlah sopir kantor.

“Mas.. boleh nggak hari ini Dhiah izin nggak belajar?” tanyanya.

“Lho.. kok nggak bilang kemaren. Mas udah dateng baru bilang. Emangnya kmu kenapa? Sakit..?”kataqu.

“Nggak.. tadi aqu pijam video bagus sama Sari (temannya), dia bilang nontonnya nggak boleh sendirian harus berdua. Tadinya mau nonton sama Ketty, eehh.. si Ketty pake ikut papa segala.. Ya aqu tunggu Mas dateng aja.”

“Kmu ada PR nggak?” tanyaqu.

“Barusan udah aqu kerjain kok. Coba aja Mas cek..” katanya sambil menyodorkan buku Matematika-nya.

Aqu cek ternyata betul semua.

“Ya udah kalau begitu. Film apa sih, kok nontonnya harus berdua?” tanyaqu sambil melihat ke judul filmnya. American Angel terbaca disampulnya. Tak ada gambar.

“Terima kasih ya Mas. Yuuk.. ke kamar Dhiah. Videonya ada di sana.” katanya sambil menggandeng tanganku ke kamarnya.

Kamar Dhiah ternyata besar sekali. Ada rak yang penuh dengan boneka, ada TV besar, ada stereo set lengkap, ada AC-nya, ada kamar mandinya, meja belajarnya bagus, tempat tidurnya luas (ukuran kingsize) dan ada pintunya ke balkon. Eh.. ada teleponnya lagi. Bukan main. Rumahku sama kamarnya masih luas kamarnya. Aqu keliling terkagum-kagum.

Aqu makin kagum aja, kamar segini luas dipake sendiri. Bermimpi pun aqu tidak pernah punya kamar seperti ini. Apalagi membayangkan. Taqut tidak kesampaian. Aqu duduk di karpet bersandarkan tempat tidur melihat ke TV. Mana gambarnya?

“Oh yaa.. Mas mau minum apa? Bi Inah lagi tidur katanya dia lagi masuk angin.” tanyanya sambil keluar kamar.

“Air putih aja deh,” jawabku taqut ngerepotin dia.

Oh ya, aqu lupa. Saat itu Dhiah tumben memakai daster agak tipis. Biasanya dia memakai celana pendek sama kaos. Dasternya itu lho yang nggak nahan. BH sama celana dalamnya terbayang. Dia masuk sambil membawa sebotol air dan gelas, lalu ditaruh di meja belajarnya.

“Kalau haus ambil sendiri ya Mass, aqu taruh di sini,” katanya lalu mem-play-kan videonya.

“Pantesan dari tadi nggak ada gambarnya.” gumanku dalam hati.

Dia duduk di sebelahku. Tercium harum badannya. Bau sabun mandi. Oh, ternyata dia habis mandi. Pantes kelihatan segar.

“Mas, tadi khan guru sejarahku nggak masuk, lalu aqu ke kantin sama temen-temen. Mereka cerita tentang pacar mereka, pengalaman mereka pacaran. Aqu malu lho.. Mas, masak cuman aqu aja yang nggak punya pacar.”

“Lho.. emang kmu belum punya pacar?” pancingku.

“Ihh.. Mas ngledek. Ya belum doongg..”

“Mau nggak jadi pacar Mas,” godaqu.

“Emangnya Mas juga belum punya pacar?” tanyanya.

“Siapa yang mau sama Mas, orang jelek miskin gini.” kataqu merendah.

“Tapi Dhiah kan belum punya pengalaman pacaran, Mas..”

“Emang Mas udahh. Mas khan juga belum pernah.” sahutku.

Hening sekejap. Sementara di TV ada adegan orang ciuman.

“Mas, apa enaknya sih ciuman seperti itu?” katanya sambil matanya menatap TV.

“Dibilang Mas belum pernah.. ya.. mana tahu rasanya..”

“Kayaknya sih enak, liat tuh sampe merem-merem segala,” sambungku.

Hening lagi, yang ada adlah adegan yang kian merangsang di TV. Si lelaki sedang bergelut sambil melucuti pakaian perempuannya, begitu pula sebaliknya. Mereka saling melucuti. Lalu mereka saling meremas.

“Aaahh.. ohh.. sshh.. shshshs..” begitu suara di TV. Kurasakan nafas Dhiah semakin cepat. Lalu menyandarkan kepalanya ke pundakku. Kakinya yang tadi diselonjorkan, kini ditekuk. Penisku mulai menegang. Ketika si perempuan sedang mengulum penis lelaki, si Dhiah mendesah, “Ihh..” Aqu tak tahu apa maksud desahannya. Jijik atau apa.

Tiba-tiba Dhiah berbisik, “Mass.. ajarin Dhiah ciuman doongg..”

“Supaya Dhiah nggak malu kalo cerita sama temen-teman.” sambungnya.

“Si Rina malah susunya pernah dicium sama pacarnya.. seperti yang divideo itu,” katanya menambahkan.

Aqu seperti mendapat durian runtuh. Disaat penisku keras, nafsuku naik karena adegan TV, ada yang minta dicium, Bidadari lagi.

“Mumpung sepi nggak ada orang nihh.” batinku.

Kurangkul dia, lalu kupangku menghadapku. Dhiah pasrah saja terhadap apa yang kulaqukan. Kucium pipinya, matanya, hidungnya. Dia menikmati semua yang kuberikan. “Aaahh.. Maass.. hmm..”Kuelus-elus punggungnya, kupegang pantatnya sambil kuremas. Bulat dan keras. Tangannya pun mulai memeluk pinggangku.

Kukecup bibirnya. Mula-mula dia tidak membuka mulutnya. Hanya bibir kami yang bertautan. Kumainkan lidahku, akhirnya mulutnya terbuka. Lidahku dan lidahnya saling membelit. Terasa manis ludahnya.

“Ternyata muridku pintar sekali belajar. Dia mengikuti apa yang aqu laqukan.” Kucoba meraba susunya. Dia tersentak. Tapi ciumanku tak kulepaskan. Tangannya memegang tanganku tapi tidak ditarik hanya dipegang saja. Pertanda dia pun menikmatinya. Kuremas dari luar perlahan bukit kembarnya. “Aaahh.. Maass..” desahnya.

Kuberdirikan dia, kuplorotkan dasternya. Dia kaget sekali. Langsung kucium lagi bibirnya, tangan kiriku meremas-remas pantatnya, tangan kananku meremas susunya. Lama-kelamaan dia sudah tak peduli lagi dengan tubuhnya yang setengah telanjang. Hanya dengan BH dan CD cream-nya. Kudorong dia ke tempat tidur.

Tanganku sekarang berusaha memegang susunya dari balik BH-nya. Kuangkat BH kirinya, kupegang langsung ke putingnya yang menonjol. “Aaacchh.. Mass.. sshh.. sshh..” desahnya disela-sela nafasnya yang memburu. Sambil menatap matanya yang mulai sayu, tangan kananku mencoba melepas BH-nya. Tak ada penolakan sama sekali. Bukan main muridku ini.

Sekarang terpampanglah sepasang bukit kembar yang sangat indah. Putingnya yang coklat muda tampak menonjol di bukitnya yang putih. Kukecup putingnya, dia menggerinjal. Kucium susu kirinya sambil kuremas susu kanannya.

“Aaacchh.. Mass.. sshh.. sshh.. aaduuhh..” kedua tangannya menjambak rambutku. Kulirik dia, ternyata dia sedang melihat ke TV dimana sedang ada adegan orang sedang bersetubuh. Tanganku segera mengusap-usap pahanya, turun ke dengkul, naik lagi. Kuusap-usap vaginanya dari luar CD-nya. Sudah basah. Kumasukkan tangan kananku ke dalam CD-nya. Bulu rambutnya masih sedikit. Kuusap-usap bibir kemaluannya. Lalu kumasukkan jari tengahku ke liangnya. Becek banget ya.

Karena kurang leluasa, kubisikkan, “, Mas sayang banget sama Dhiah..”

“Mas.. dhiah.. jugaa sayaanngg Mass..” desahnya.

“Mas buka yaa..”

Dia menatapku tajam. Tapi tanganku mulai menurunkan CD-nya. Dia tidak menolak, bahkan membantuku dengan menaikkan pantatnya. Stlah CD-nya terbuka, tampaklah seonggok daging yangindah sekali bentuknya. Agak tembem. Kucium perlahan. Baunya segar sekali. “Maass.. aahh..” desahnya keras sambil pantatnya terangkat ke atas.

Penisku sakit karena tegangnya sudah maksimum dan terjepit celana. Aqu berdiri melepaskan semua pakaianku. Dia hanya memandangiku sayu. Bugillah kita berdua di kasur yang luas.

Kubenamkan wajahku di sela-sela pahanya yang membuka. Kujilati seluruh permukaan vaginanya. Kumasukan lidahku mencari kacang kedelenya. Begitu tersentuh. Dia menggelinjang keras.”Aduuhh.. Mass.. aahh.. ennaakk.. Mass.. teruss.. terruuss.. oohh..gellii.. Mass.. oohh..” Sambil pantatnya goyang kiri dan kanan, naik dan turun.

Tak lama kemudian, tiba-tiba dia menekan kepalaqu dan menjepit dengan pahanya. “Aaahh.. Maass..” Dhiah berteriak keras sekali. Dan, “Syur.. syurr..” mengalirlah cairan kenikmatan dari liang vaginanya ke mulut dan lidahku.

Hidungku pun kena cipratannya. Kujilat. Ah, rasa itu kembali kurasakan. Stlah sekian lama tak kurasakan. Kuhayati rasanya. Kok yang ini lebih manis dari punya Yeyen yang pernah kurasakan, kujilati seluruhnya sampai bersih tak tersisa. Dhiah makin berteriak, “Mass.. uudaah.. Mass geli..”

Lalu aqu naik, kupeluk dia dengan mesra. Penisku yang masih tegang, menyenggol pahanya. Kutempelkan ke mulut vaginanya.

“Ohh.. Mass..” desahnya lirih.

, Mass masukkan boleehh?” tanyaqu sambil menatap wajahnya memohon persetujuannya.

Dia hanya mengangguk lemah. Hebat sekali muridku ini. Apa karena dia keturunan Pakistan ya sehingga nafsunya besar.

Kukangkangkan pahanya. Kupegang penisku, kuarahkan ke sana. Terasa hangat kepala penisku menyentuh bibir vaginanya.

“Pelan-pelan yaa Mass..” pintanya.”Tentu dong Sayaangg..” jawabku mesra.

Kudorong sedikit, meleset. Kudorong lagi, nah mulai masuk kepalanya. Kulihat dia meringis-ringis, kutahan sebentar sampai dia tidak meringis lagi. Kutekan perlahan-lahan, dia meringis lagi. Saat kulihat sudah sepertiganya masuk, kutarik sedikit, tekan sedikit, tarik sedikit perlahan-lahan dengan penuh perasaan.

Kutekan lebih dalam. Sudah setengahnya masuk. “Aaahh.. Mass.. saakiitt.. Mass.. aduuhh.. sshh..” Kutahan, kudiamkan sebentar lalu kutarik lagi. Maju mundur perlahan-lahan. “Adduuhh..enaakk.. Mass.. aahh.. shhshshsh.. Ayoo.. Mass.. hmm.. yang.. dalam.. Mass.. aahh..”

Karena sudah ada lampu hijau, kutekan dengan sekuat tenagaqu. “Bless..” penisku seperti menabrak kain tipis yang langsung sobek.

“Auuwww.. Mass.. sakiitt.. periihh.. Mass.. aduuhh..” teriaknya. Aqu tidak peduli karena situasi rumah yang sepi. “Ooohh.. selaput dara.. aqu berhasil menembusmu,” batinku. Seluruh penisku seperti dipijit dan diremas mesra.

Aqu diamkan beberapa saat sampai vaginanya bsa menerima kehadiran penisku dan dia tak merasa kesakitan lagi. Sementara itu dia melirik lagi ke TV. Saat itu di TV sedang ada adegan doggy style. Aqu merasakan kedutan-kedutan halus di penisku. “Udah saatnya nich..” batinku.

Kucabut perlahan-lahan lalu kutekan lagi dengan sangat perlahan. Berulang-ulang. “Ohh.. Mass.. oohh.. aahh.. enaakk.. Mass.. oohh.. aduuhh.. aahh..” desahnya. Rupanya rasa sakitnya sudah hilang, berganti dengan kenikmatan.

Bukan main rasanya. Sempit sekali vagina si Dhiah ini. Jepitannya terasa di seluruh penisku. Ketika kutarik, sepertinya vaginanya tak rela. Nyedot rasanya.

Lama-lama kupercepat sedikit demi sedikit. Stlah terasa sangat licin. Makin cepat dan makin cepat. Kulihat kepalanya bergoyang kiri ke kanan. Susunya bergoyang-goyang indah. Ah, indahnya pemandangan itu. “Aaahh.. cepet Mas.. cepet.. Mass.. yang dalem Mass.. ayoo.. Mas.. yang dalem Maass..”

Pantatnya kini sudah bsa mengimbangi gerakanku ke kiri dan ke kanan. Penisku seperti dipelintir rasanya. “Sudah masuk semua kok masih teriak-teriak yang dalem, “batinku. “Dalem sekali vaginanya yaa.” Memang aqu tak merasakan kepala penisku menyentuh apa-apa. Kupercepat sampai mentok. Ah, nikmat rasanya.

Kira-kira 10 menit, dia mulai ngomong yang nggak jelas. Kupercepat lagi sekuatku sampai pinggangku agak sakit. Tiba-tiba kakinya membelit pinggangku. Pantatnya ke atas, lalu diputar-putar dengan cepat. “Aaacchh.. Mass.. aquu.. udaahh..” Aqu yang tadinya juga sudah mau sampai, digoyang seperti itu, mau nggak mau bobol juga pertahananku.

” Maass.. juugaa.. aahh..” teriakku sambil menekan penisku agar masuk lebih dalam. “Croott.. croott.. croott..” ada 5 atau 6 kali penisku menembakkan maninya di liang vagina Dhiah. Lalu aqu terkulai lemas tak bertenaga di sebelahnya.

Kami berpelukan erat sekali.

“Kmu hebat sekali..” kataqu.

“Mas juga hebat..”

“Terima kasih ya, Dhiah..” kataqu sambil mencium keningnya.

“Dhiah yang terima kasih sama Mas, Mas mau ngajarin Dhiah. Dhiah jadi tau kalau bercinta itu nikmat sekali..”

Kita berdua lalu tidur telanjang berpelukan di bawah selimut tebalnya.

Sorenya aqu bangun karena aqu merasa lapar dan dingin. Rupanya aqu sudah tak berselimut lagi. Kupandangi Dhiah-ku yang masih tertidur dengan pulas. Kulihat ada lendir kemerahan dekat kakinya. “Oh darah perawan..” pikirku. Kecantikannya sangat alami. Kecantikan seorang gadis belia yang baru berumur 13 tahun, tapi ingin merasakan nikmatnya bercinta. Kuselimuti dia. Sementara itu gambar TV-nya sudah berwarna biru. Pertanda videonya sudah habis.

Gmna nih.. Aqu lapar. Di rumah orang lagi. Biasanya aqu disuguhi pisang goreng dan kopi susu. Aqu memakai bajuku, dan berjalan di sekeliling kamarnya, mematikan TV. Kuperhatikan foto-fotonya di atas meja belajarnya. Masih lebih cantik orangnya daripada fotonya. Beruntung aqu menemukan biskuit di atas meja belajarnya. Lumayan buat mengganjal perut.

Tak lama Dhiah bangun. Menggeliat-geliat sebentar. Lalu memanggilku.

“Udah lama bangunnya, Mas..?”

“Yaahh.. lumayanlah. Ini biskuitmu aqu makan. Abis laper sihh.”

“Makan aja nggak apa-apa kok Mass.” katanya sambil bangkit dengan telanjang bulat. Lalu memakai pakaiannya.

Kalau aqu boleh menilai, Dhiah pantas mendapat nilai 10. Karena aqu sampai saat ini belum pernah melihat gadis yang lebih cantik dari dia. Apalagi body-nya.

“Dhiah ke bawah dulu ya Mass. Dhiah juga lapar.”

Kira-kira 1 jam kemudian, Dhiah datang dengan membawa 2 piring nasi goreng yang baunya membuat perut keroncongan. Lalu kami makan berdua.

“Enak betul nasi gorengnya. siapa yang masak..?” tanyaqu.

“Dhiah sendiri Mas.”

“Lho.. Bi Inah ke mana?”

“Nggak tau tuh. Biasanya kalau sore dia suka ngobrol sama temen sebelah.”

Makin sempurna saja nih si Dhiah. Cantik, pintar, bsa masak.

“Mass, mandi yuukk..” ajaknya, “Badan Dhiah lengket semua niicchh..”

Rekan pembaca yang budiman, beberapa hari yang lalu aqu dan Dhiah masih ada jarak yang memisahkan. Antara murid dan guru. Sekarang stlah kami berhubungan badan, dia tanpa malu-malu malah mengajakku mandi bersama. Keadaan sudah berbalik 180 derajat.

Stlah melepaskan semua baju kami, lalu berbugil ria masuk kamar mandinya. Busyet.. kamar mandinya ada perahunya (bath tube). Ada air panasnya lagi. Stlah menyetel agar air hangatnya pas, kita berdua mandi di shower. Saling menyabuni, membuat penisku mengeras lagi.

Ketika aqu sedang menyabuni susunya, sengaja kuremas-remas sampai bukit kembarnya mengeras dan putingnya menonjol. Dia mendesah, “Aaahh.. Mass.. teruuss.. Mass enaakk.. Mass..”Lalu kusiram, stlah bersih kusedot kedua bukit kembarnya bergantian. Sementara tanganku menyabuni vaginanya. Dia semakin belingsatan.

“Maass.. oohh.. Maass.. aahh..”Kusiram vaginanya, lalu aqu jongkok di hadapannya. Kujilat bibir kemaluannya. “Ooohh.. aahh.. Mass.. diapain Maass..” Lalu kaki kirinya naik ke bath tube, makin jelaslah isinya. Merah muda bagus sekali. Aqu sampai berdebar-debar memandangnya.

Kemudian kusentuh kedelenya. “Auwww.. Mass..” Lalu kucium dengan penuh perasaan. Kujilat perlahan, dia makin menggelinjang tak karuan. Karena taqut jatuh, dia lalu tiduran di dalam bath tube sementara pantatnya berada di pinggir bath tube. Makin terkuak lebarlah vaginanya. Kuserbu dengan jilatan-jilatan ganas. “Ohh.. aahh.. sshh.. aahh.. oohh.. Mass.. aduuhh..” suaranya meracau.

Aqu ingin merasakan cairannya yang manis. Maka kupercepat jilatanku di kedelenya. Akibatnya pantatnya makin bergerak kian kemari. Tangannya menjambak-jambak rambutku. Tak lama kemudian,

“Aaahh.. Maass..” dan, “Suurr.. syuurr..” mengalirlah air kenikmatannya. Rasanya gurih sekali. Manis, sedikit asin seperti tajin. Ah, segarnya. Kuhirup semuanya sampai tetes terakhir. Akhirnya dia tiduran di bath tube.

Lalu aqu mandi. Menyabuni seluruh tubuhku. Ketika aqu akan menyabuni penisku yang sedang tegang, dia bangkit.

“Mas, biar Dhiah aja yang nyuci.. Mass..”

Dia jongkok di depanku. Dipandangi dengan seksama penisku.

“Mass.. sebesar ini kok bsa masuk ya..” sambil menggenggamnya. Lalu disabuni batangku.

“Ohh.. nikmatnya.. aahh..” Lalu tangan kirinya memegang kantong pelirku. Sambil meremas perlahan.

“Kalau yang ini isinya apa Mass? kok isinya lari-lari sihh..” tanyanya.

“Itu adlah pabrik sperma, Sayang.” kataqu.

“Ooo..”

“Dhiah tadi siang liat nggak di TV yang perempuan menghisap punyanya laki-laki?” tanyaqu.

“Liat Mas.. engg.. Mas mau Dhiah menghisap punya Mas..?” tanyanya.

“Ya.. kalau Dhiah nggak keberatan,” sahutku.

“Eee.. gmna yaa..” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke penisku.

Diciumnya penisku perlahan, karena wangi habis disabuni, dia sepertinya menikmati sekali. Lalu digesek-gesekkan ke pipinya, matanya, lehernya sambil matanya terpejam. Lama, dia melaqukan itu. Punyaqu berontak semakin tegang.

“Aaahh.. Mass.. punya Mas.. hangat..” desahnya.

“Ayoo doonngg.. dihisaap..” pintaqu.

Dengan taqut-taqut kepala penisku dicium. Lalu batangnya balik lagi ke kepalanya. Lidahnya dengan ragu-ragu dikeluarkan. Mulai menjilat kepala penisku. Lidahnya yang agak kasar itu menggaruknya.

“Aaahh.. yaa.. begitu.. yaa.. yaa.. aduuhh.. enaknya.. aahh..” Aqu mendesah nikmat. Lalu lidahnya mulai menelusuri batangnya hingga kantong pelirku. Kantong pelirku dihisapnya. “Aduuhh.. enaknya.. aahh..” desahku makin keras

Lalu dengan menatapku, mulutnya terbuka sedikit dan mengemut kepala penisku. Hangat terasa penisku. Maju mundur maju mundur sambil tetap menatapku. Dan.. dia mulai menghisap. Bukan main, muridku ini cepat belajar. Jauh lebih pandai dari Yeyenku dulu. Kalau Yeyen dulu, hisapan pertama, penisku kena giginya. Tapi Dhiah..? Aqu yakin sekali kalau dia baru pertama melaqukannya. Kok bsa..?

Hisapannya makin lama makin cepat dan kuat. Kupegang kepalanya agar dia lebih dalam menghisap. Dan kulihat separuh penisku masuk. Bukan main, Yeyen dulu hanya sanggup menelan kepalanya saja.

Penisku sepertinya sudah tak sanggup menahan sensasi luar biasa yang diterimanya. Karena selain dihisap, Dhiah juga memainkan lidahnya di kepala penisku. Rasanya berkedut-kedut. Makin lama makin cepat, makin cepat makin cepat dan.. “Aaahh..” aqu menjerit keras. Lalu, “Croott.. croott..” spermaqu muncrat ke mulutnya. “Aaahh.. aduuhh..” aqu terduduk lemas. Penisku pun melemas.

Kulihat sebagian spermaqu mengalir keluar dari sela-sela bibirnya. Dia sepertinya sedang bingung merasakan rasa dari air maniku.

“Mass.. Airnya tertelan nggak pa-pa?”

“Nggak apa-apa Sar.. Ditelan malah enak kok..”

“Enaakk apa nggak?” tanyaqu.

“Enak Mas.. seperti air santan kental agak asin.”

“Itu proteinnya sama dengan 10 telor ayam kampung lho..”

Stlah agak mendingan kami mandi bersama lagi karena tadi keringetan. Sewaktu aqu mengeringkan badannya dengan handuk, Dhiah memandangku agak lama. Susunya menegang keras, putingnya mulai menonjol lagi. Nafasnya sedikit memburu. Nah lho, mau apa lagi dia. Dia menarik tanganku keluar dari kamar mandi.

Aqu langsung didorong sampai terlentang di tempat tidur. Diraihnya penisku yang masih lembek. Diurut-urut, dipijat, sampai akhirnya mulai mengeras sendiri. “Hore.. kerass lagii..” teriak Dhiah kegirangan. Lalu tanpa ragu-ragu, diemut lagi penisku dengan ganas. Dihisap dengan keras. Karena aqu taqut spermaqu keluar sia-sia, maka dengan cepat kutarik badannya ke atas tempat tidur.
Kubanting agak keras, lalu kukangkangkan kakinya. Kucium bibir vaginanya, kujilat klitorisnya. Ternyata vaginanya sudah agak basah. Kujilat terus sambil kutekan lidahku ke klitorisnya. “Aaahh.. sshh.. sshh.. ayoo.. Mass.. cepeett.. Mass..” Aqu tak perduli, terus saja kujilati klitorisnya.

Tiba-tiba dia bangun, aqu ditindihinya, dikangkanginya. Tangannya memegang penisku, lalu diarahkan ke vaginanya. Digerak-gerakkan agar pas dengan lubangnya, lalu perlahan-lahan pantatnya diturunkan.

“Aaahh.. Mass..” saat kepala penisku mulai masuk. Dengan sangat perlahan dia menurunkan pantatnya, sampai penisku masuk seluruhnya. Seluruh batang penisku serasa diremas oleh lubang basah hangat. “Aaahh.. Dhiah.. sshh..”

Lalu dia diam sebentar. Aqu kaget ketika dia entah sengaja tidak menggerakkan urat-urat vaginanya. Seluruh batang penisku seperti dipijat. Diremas-remas oleh urat vaginanya yang cukup kuat. “Aaahh.. Dhiah.. kmu apaiinn.. hhgghh..” Dengan perlahan, sambil menggerak-gerakkan urat vaginanya, Dhiah mengangkat pantatnya. Gila rasanya. Penisku seperti ditarik. Sensasinya sampai ke ubun-ubun kepalaqu.

Seluruh badanku merinding tak sanggup menahan sensasi itu.Stlah kira-kira tinggal kepalanya saja yang terjepit, dengan perlahan pula diturunkan pantatnya. Ini juga, dia mengedut-ngedutkan urat vaginanya. Aqu tak sanggup mengungkapkan dengan kata-kata apa yang sedang kurasakan.

Hebatnya, selama dia melaqukan hal tersebut, matanya terus memandangiku.

“Gmna Mass.. enaakk?” katanya.

“Aduuhh.. dhiah.. Mas bsa matii.. keenakan.. niihh..”

“Tolong doonngg.. jangan siksa Mas seperti inii..” rintihku.

“Aaacchh.. sshh.. aahh.. oohh..” dhiah mendesah-desah sambil berpikir ini pasti bakat alaminya. Karena dia baru sekali ini bersenggama. Keturunan? Tak tahu aqu..

Mungkin karena kasihan padaqu atau kenapa, lalu dia mempercepat gerakan naik turunnya. Makin lama makin cepat. Susunya yang bergoyang-goyang, segera kuremas dengan keras untuk mengimbangi rasa geli dan ngilu di penisku. “Aduuhh.. saakiitt.. Maass.. Jangan keras-keras doonngg..” erangnya. Siapa yang perduli, lha wong aqu aja juga disiksa begini. Disiksa?

Tak lama rasanya pertahananku mau jebol. “Saarr.. aquu.. maauu.. nyaammpee.” lalu “Croott.. croott..” pejuku muncrat ke vaginanya. Sedikit yang keluar, karena sudah duakali. Tapi karena Dhiah belum sampai dia terus saja naik turun di atas tubuhku.

“Saarr.. udaahh.. Mass.. ngaakk taahaann..” aqu berteriak karena rasa geli dan ngilu yang tak tertahankan. Aqu kelojotan. Wah, Ini tak bsa dibiarkan pikirku.

Lalu kucabut penisku dan kubalikkan tubuhnya, segera saja lidahku, menerjang dan menjelajah liang vaginanya. Kuhajar habis-habsan daging sebesar kedele itu dengan jilatanku yang ganas. “Aaahh.. Mass.. aahh.. oohh.. yanngg keeraass.. Maass.. yang.. cepaat Mass..” sambil tangannya menekan kepalaqu.

“Rasanya kok aneh begini? Ini pasti dari pejuku.” pikirku. Lidahku sampai pegal tapi dia kok belum sampai juga yah. Kupercepat dan kuperkeras semampuku. Tak lama kemudian..

Kakinya menjepit kepalaqu, tangannya semakin keras menekan kepalaqu, pantatnya dinaikkan.Dan..

“Aaahh.. Maass.. aquu.. nggaakk.. kuaatt..” lalu, “Syurr..” Akhirnya keluar juga cairan kenikmatannya. Tak banyak. Aqu hisap semua. “Aaahh..” aqu tergeletak lemas di sebelahnya. Selesai sudah tugasku.

Malam itu aqu dipaksa menginap di kamarnya. Dhiah seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. Bukan main nafsunya seksnya. Kami main sampai kira-kira jam 2 malam. Semua posisi yang bsa kami laqukan, kami laqukan.

Berdiri, jongkok, nungging, di karpet, di tempat tidur, di meja belajar. Dan sepertinya Dhiah tak pernah merasa puas, yang kuingat dia sampai 5 kali orgasme. Sedang aqu sampai habis rasanya cadangan spermaqu.

Terkuras habis. Entah berapa kali aqu orgasme. Aqu merasa tak punya tulang lagi. Lemas sekali. Habis siapa yang sanggup menolak permintaan bidadari? Mungkin ini adlah sensasi yang terindah, selama hidupku.

Aqu bangun pukul 8 pagi esok harinya, dan langsung pulang karena taqut orang tuaqu mencariku. Dan aqu janji nanti sore akan kembali lagi.

Sejak saat itu, dengan alasan sudah mendekati ulangan umum, maka jamnya ditambah 1 jam menjadi 3 jam setiap pertemuan. Dan ruangan belajarnya pun pindah ke kamarnya. Setiap pertemuan, selalu kami isi dengan pertempuran dahsyat. Dan herannya kami tak pernah bosan dan tak pernah puas. Untuk mengimbangi Dhiah, aqu harus banyak olahraga dan minum telor. Dhiah pun makin terlihat cantik.

Pernah suatu kali disaat kami sedang bertempur, adiknya mendadak masuk ke kamarnya. Dia menjerit lalu lari keluar. Aqu dan Dhiah sama-sama kaget. Untungnya si Ketty taqut sekali sama kakaknya sehingga tetap menjadi rahasia bertiga. Sehingga orang tuanya tidak mengetahui skandal kami.

Saat pembagian raport tiba, aqu deg-degan sekali. Ternyata.. nilai Matematika, Fisika dan Kimianya adlah 8. Bahkan dia bsa masuk 10 besar. Orang tuanya sangat bangga padaqu. Aqu diberi uang banyak. Selanjutnya kami membuat perjanjian, untuk semester depan agar aqu mengajar dia lagi. Selama kurang lebih 2 minggu aqu tidak bertemu Dhiah karena orang tuanya mengajaknya liburan ke Bali. Walaupun aqu sekarang tidak mengajar Dhiah, tapi aqu sering mengunjunginya kalau orang tuanya sedang tidak berada di rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*