Cerita Mesum Kakak dari Rica | Tempat Cerita Sex
BandarQ online
Home » Kisah Bokep Ngentot » Cerita Mesum Kakak dari Rica

Cerita Mesum Kakak dari Rica

VIMAX Vimax

Cerita Sex Selingkuhan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Ngentot Baru – Kring kring kring suara handphoneku berbunyi begitu bunyinya hehe..”halllo” dengan nada yang rendah dan merdu aku sudah bisa menebak kalau dia adalah Rica.

“hai men kamu berangkat saja dulu, aku masih di kantor nih malah ada rapat segala, nanti aku susul langsung habis selesai rapatnya” cerita orang ngentot, kumpulan cerita ngentot, ngentot cerita, cerita hot ngentot, cerita nyata ngentot 2017

“yess tak masalah aku menuju rumahmu sekarang aja ya , lha kira kira kamu selesaianya jam berapa nih??
“belum tau men mungkin sore, ya kamu nunggu aja lah dirumahku”

Cerita Dewasa Kakak dari Rica

Cerita Ngentot Memek kakak, Cerita Mesum Selingkuh, Cerita Sex Selingkuhan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Ngentot Baru, cerita sex ngentot 2017, cerita ngentot terbaru 2017, cerita orang ngentot 2017, kumpulan cerita ngentot 2017, ngentot cerita 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata ngentot 2017, koleksi cerita ngentot 2017, cerita ngentot baru 2017, kumpulan cerita ngentot terbaru 2017

Cerita Mesum Kakak dari Rica

Perlu di ketahui Rica adalah pacarku yang mana dia sekarang baru naik naiknya pangkatnya di kantor maka dari itu dia akhri akhir ini sering melakukan rapat kantor, kalau aku juga bekerja di kantoran namun untuk posisi mah lumayan juga, aku bekerja di salah satu periklanan diamana aku juga sering di kejar deadline.

Karena di ibukota sudah terkenal macetnya aku kalau pergi kekantor sering menggunakan motor , rica pun tak masalah aku pakai motor malah dia suka karena sering aku menghantarkan dia lewat jalan jalan tikus, tapi kadang pula rica sudah mendapat jaminan antar jemput dari kantor.

Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu. Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Vina, kakak Rica, untuk membuka pintu.

“Loh, enggak kerja?” tanyaku.

“Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor,” jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.

“Nyokap ke mana?” tanyaku lagi.

“Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan,” kata Vina,

“Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton TV juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum.”

Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya.

Cerita Ngentot Memek kakak, Cerita Mesum Selingkuh, Cerita Sex Selingkuhan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Ngentot Baru, cerita sex ngentot 2017, cerita ngentot terbaru 2017, cerita orang ngentot 2017, kumpulan cerita ngentot 2017, ngentot cerita 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata ngentot 2017, koleksi cerita ngentot 2017, cerita ngentot baru 2017, kumpulan cerita ngentot terbaru 2017

Cerita Sex Kakak dari Rica

Aku memang akrab dengan kakak Rica ini, umurnya hanya selisih dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton TV bersama Vina, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.

Setelah beberapa lama menunggu Rica di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa.

Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Vina ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning. Vina memang sedang menonton TV di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila.

Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton TV. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.

Cerita Ngentot Memek kakak, Cerita Mesum Selingkuh, Cerita Sex Selingkuhan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Ngentot Baru, cerita sex ngentot 2017, cerita ngentot terbaru 2017, cerita orang ngentot 2017, kumpulan cerita ngentot 2017, ngentot cerita 2017, cerita hot ngentot 2017, cerita nyata ngentot 2017, koleksi cerita ngentot 2017, cerita ngentot baru 2017, kumpulan cerita ngentot terbaru 2017

Cerita Dewasa Kakak dari Rica

Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.

“Vin, ada koran enggak yah,” kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.

“Lihat aja di bawah meja,” katanya sambil lalu. Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat.

Ahhh, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.

“Aku ingin dada itu,” kataku membatin. Aku membayangkan Vina dalam keadaan telanjang.

Ah, ‘adikku’ bergerak melawan arah graricasi. “Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Rica lho!,” Vina menghardik dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya.

Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Vina akan mengatakan ini semua ke Rica.

“Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!”

“Astaga, Vina, kamu.. kamu salah sangka,” kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Vina makin naik pitam.

“Saya bilangin kamu ke Rica, pasti saya bilangin!” katanya setengah berteriak.

Tiba-tiba saja Vina berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir. “Vina, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa,” aku sedikit memohon.

“Vin, tolong dong, jangan bilang Rica, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu,” kataku mengiba sambil mendekatinya.

Vina malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.

“Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!,” katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.

“Duh,Vin, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran,” kataku.

Namun, situasi telah berubah, Vina malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan kirinya.

Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.

“Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!,” kata Vina.

Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya.

Merasa terancam, Vina malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan.

Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi.

Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu. Vina terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya.

Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut. Tak ayal, sepersekian detik itu pula Vina meronta-ronta. Vina berteriak,

“Lepasin! Lepasin!” dengan paraunya.

Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku.

Vina berusaha memekik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, “Hmm!” saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.

Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Vina. Dan, Vina sepertinya pantas untuk diperkosa.

Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki.

Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.

Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Vina untuk memekik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.

Tanpa diduga oleh Vina, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Vina bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.

Kaki Vina yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya.

Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Vina. Astaga! Berhasil! Vina jadi setengah bugil. Satu dua detik Vina pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini.

Ku gunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Vina sadar, dia hendak memekik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya.

Posisi kaki Vina jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat memeknya dengan kelentit yang cukup jelas.

Jembutnya hanya menutupi bagian atas memek. Vina ternyata rajin merawat alat genitalnya. Pekikan Vina berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,

“Vina, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?” Vina tiba-tiba melemas.

Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Vina cuma berujar sambil mengisak, “Dodi, please.. Jangan diapa-apain saya.

Ampun, Di. saya enggak akan bilang Rica. Beneran.” Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya.

Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Vina tak bisa mengelak. Ketika tanganku menyentuh halus permukaan memeknya, saat itulah titik balik segalanya.

Vina seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah. Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di memeknya.

Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Vina berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam memeknya.

Kukocokkan perlahan memeknya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya. “Jangan Dod,” pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya.

Sekarang dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok memeknya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku.

“Adik”-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan kontolku ke memeknya.

Vina sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat memeknya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan.

Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun memeknya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.

Kontolku mengarah ke memeknya yang telah becek, saat kepala kontol bersentuhan dengan memek, Vina masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala kontolku pun masuk perlahan. Memek Vina seperti berkontraksi. Vina tersadar, “Jangan..” teriaknya atau terdengar seperti rintihan.

Rasa hangat langsung menyusupi kepala kontolku. Kutekan sedikit lebih keras, Vina sedikit menjerit, setengah kontolku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh kontolku telah ada di dalam memeknya. Vina hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung.

Ku goyangkan perlahan pinggulku, kontolku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa memek Vina mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi. Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Vina masih mengenakan kaos rumah.

Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus.

Payudara Vina begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan kontolku di memeknya. Vina hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.

Aku buka kaos Vina, kemudian BH-nya, Vina menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Vina putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku.

Aktiricas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan kontolku merasai seluruh relung memek Vina. Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut.

Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Vina mendesah lepas, tak tertahan lagi. Aku mulai mengencangkan goyanganku.

Vina mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, “Ah.. ah..” Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Vina yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku.

”Aaahh,” lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Vina. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan kontolku berdenyut makin keras dan sering.

Bibir Vina yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Vina membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang.

Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.

Memek Vina kali ini cukup terasa mencengkeram kontolku, sementara denyut di kontolku pun semakin hebat. “Uhh,” aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, kontolku menghujam keras ke dalam memeknya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.

Tepat saat itu juga Vina memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahh”. Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku.

Vina terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Vina awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di memeknya.

Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya. Grreekk. Suara pagar dibuka. Rica datang! Astaga! aku dan Vina masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan. Cerita Ngentot Memek kakak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*